FAQ HITS KITSCH

FAQ FSTVLST HITS KITSCH BOXSET & DIGIPACK
Pertanyaan yang sering muncul tentang bagaimana mendapatkan album FSTVLST HITS KITSCH

Question: Kenapa saya harus mempunyai BOXSET atau DIGIPACK HITS KITSCH?
Answer:
Engga harus juga sih, yang harus itu: makan kalo laper, tidur kalo ngantuk, bilang kalo suka.. ea..

Question: Jadi, kenapa saya harus beli rilisan fisik HITS KITSCH?
Answer:
FSTVLST sampai sekarang berkarya dan bekerja secara mandiri, termasuk saat membuat HITS KITSCH. Untuk tetap bisa menghasilkan karya dan bertahan hidup, FSTVLST mau ga mau harus cari duit melalui jualan album, jualan merchandise dan manggung. Teman-teman yang memutuskan untuk beli rilisan fisik HITS KITSCH baik dalam bentuk BOXSET atau DIGIPACK tentusaja menunjukkan dukungan kepada FSTVLST untuk terus selalu berkarya.

Question: Dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya dukung FSTVLST. btw, ada link download gratis HITS KITSCH engga ea? #ea #eaaaa
Answer:

Dari lubuk hati kami yang paling dalam, mengucapkan terimakasih untuk segala dukungannya. Download gratis album HITS KITSCH (dan juga album atau lagu band lain) adalah bentuk dukungan juga untuk band tapi juga banyak sisi negatifnya. Beberapa kali FSTVLST juga pernah membagi gratiskan beberapa single sebagai bentuk terimakasih kami atas dukungan teman-teman. Untuk HITS KITSCH, kami distribusikan dalam bentuk rilisan fisik. Tentang link download gratis HITS KITSCH ada di sini (klik tautan ini, lalu scroll dan baca sampai ke bawah). 

Question: HITS KITSCH BOXSET & DIGIPACK itu apa sih?
Answer:

HITS KITSCH BOXSET adalah album FSTVLST yang dirilis dalam kemasan kotak exclusive berisi 8 jenis barang: kaset, CD, T-shirt, booklet artwork & lirik lagu, handuk kecil, notebook, totebag, dan sticker set HITS KITSCH.
HITS KITSCH DIGIPACK adalah album FSTVLST yang dirilis dalam kemasan digipack 3 jenis barang: CD, booklet artwork & lirik lagu, dan sticker set HITS KITSCH.

Question: isi HITS KITSCH BOXSET di jual terpisah (eceran) ga?
Answer
:
Isi BOXSET yang dijual terpisah hanya DIGIPACK-nya saja. 

Question: Berapa harga HITS KITSCH BOXSET & DIGIPACK?
Answer:

Harga HITS KITSCH BOXSET Rp. 250.000, sedangkan DIGIPACK adalah Rp. 65.000 (diluar ongkos kirim) (bisa juga COD di LIBSTUD jogja tanpa biaya kirim)

Question: HITS KITSCH BOXSET & DIGIPACK masih ready stock ga?
Answer:

BOXSET ready stock (persediaan terbatas), DIGIPACK ready stock (persediaan masih banyak)

Question: Bagaimana cara pembelian HITS KITSCH BOXSET & DIGIPACK secara langsung?
Answer:

1. COD (jogja) ke LIBSTUD, Jl Cendrawasih 351B, Pringwulung, Nologaten, Depok, Sleman, Yogyakarta (Nologaten, sebelah barat wisata kuliner Pringwulung/ Ngeban, utara jalan) 0274 530 5643 (Senin sampai Sabtu, 11.00 - 19.00)
2. Datang ke gigs-gigs yang FSTVLST maen, kita pasti buka lapak di sana.
3. Titik distribusi (akan kami update terus).

JOGJA
- LIBSTUD - Jl. Cendrawasih 351B, Pringwulung, (barat wisata kuliner pringwulung) 0274 530 5643

WONOSARI GUNUNGKIDUL
- Monte Cafe - samping LP Baleharjo
- Delivery Service - Kokoc - 0818 0438 0887 (call & sms & whatsapp)

SOLO
- Mars  - Jl. Soka no.1 Brengosan, Purwosari (samping warung Special Sambal) cp: pungkas 0878 3664 5503

4. Follow twitter @FSTVLST & @FSTVLSTmerch untuk info update cepat titik distribusi.

Question: Saya di luar kota (atau saya ga pengen beli online aja), gimana cara beli HITS KITSCH BOXSET & DIGIPACK secara online? 
Answer
:
Kirim SMS ke merchman FSTVLST di nomor 0896 7233 7296 dengan format:

BOXSET/ DIGIPACK (spasi) alamat email (spasi) no hp (spasi) jumlah BOXSET/ DIGIPACK yang dipesan (spasi) nama dan alamat kirim.

lalu ikuti instruksi dari admin kami.

Question: saya udah pre-order HITS KITSCH BOXSET, yang lain udah pada dapet, punya saya kok belum sampe?
Answer
:
Semua pre-order BOXSET yang sudah lunas terbayar sudah masuk tahap pengiriman ke alamat pemesan via eksebisi JNE, sementara yang belum lunas kami tunggu pelunasannya, lalu baru bisa kami kirimkan. Teman-teman yang sudah dapat BOXSET, kebanyakan yang langsung COD di jogja. Mohon bersabar untuk semuanya ya, pelan-pelan satu demi satu album akan terdistribusikan. Sabar adalah sebagian dari HITS KITSCH yang hakiki. :)

Question: Kenapa Jenny ganti nama jadi FSTVLST, kenapa albumnya judulnya HITS KITSCH?
Answer:

Hadehhh.. pada googling aja yak... :D

Dengan membeli HITS KITSCH dan tidak meng-upload-nya, berarti teman-teman menghargai kerja keras dan kesabaran teman-teman untuk mendapatkan HITS KITSCH, dan menghargai kerja keras kami dalam berkarya. Terimakasih banyak telah mengambil keputusan untuk mendukung FSTVLST dengan cara apapun

banyak hal terjadi sejak kami merilis album debut berjudul Manifesto pada tahun 2009, waktu itu band ini bernama Jenny. Salah satu momentum utamanya adalah saat kami harus kehilangan dua personil dalam waktu yang tidak berselang lama. Anis Setiaji (Drums) dan Arjuna Bangsawan (Bass) memutuskan untuk hengkang dari band yang kami bangun bersama sejak tahun 2003 di kampus senirupa ISI Yogyakarta. Pergantian formasi band adalah respon refleks yang kami ambil sebagai usaha sekaligus pernyataan bahwa band ini tidak akan bubar dan berhenti berkarya, maka bergabunglah Danish Wisnu Nugraha sebagai drummer baru (sebelumnya adalah roadies drummer jenny) dan Humam Mufid Arifin sebagai bassis baru (sebelumnya adalah additional guitar player jenny).

Keputusan menanggalkan nama Jenny yang sudah kepalang tanggung kami bela dan perjuangkan selama hampir delapan tahun adalah keputusan krusial yang sangat beresiko. Keputusan yang akhirnya mau tidak mau harus kami ambil karena kami ingin memberikan tempat khusus untuk Jenny di hati kami dan teman-teman yang juga sudah mendukung band ini. Daripada memudar lalu hilang, biarkan jenny mati dan sekaligus hidup kembali selamanya dalam ingatan-ingatan baik. akhir 2011, Jenny berganti nama menjadi FSTVLST (dibaca: festivalist), dengan dua personil baru dan dua Jenny, Roby Setiawan (guitar) dan Farid Stevy Asta (Vocal). Roby, Farid, Mufid dan Danish melanjutkan apa yang sudah diawali oleh Jenny, dengan semangat dan energi yang bisa kami bilang selalu berlimpah menemani.

band ini akan merilis album perdana untuk kedua kalinya. Setelah Manifestonya Jenny, kami akan merilis album perdana FSTVLST dengan judul HITS KITSCH. Setelah melewati proses panjang yang kita sebut dengan FSTVLST RCRD PRJCT (festivalist record project). Selama hampir dua tahun kami melakukan penyelarasan ulang atas berbagai elemen penting di band ini dan juga menjalani proses kreatif pengkaryaan materi-materi baru, termasuk didalamnya mencoba berdialog dan berkolaborasi dengan teman-teman dan orang-orang yang mempunyai visi kemerdekaan dalam berkarya. 

Almost Rock Barely Art, adalah genre bebas ciptaan kami sendiri untuk bukan hanya untuk menyebut tapi lebih sebagai sebuah kesimpulan terhadap apapun yang kami karyakan dalam band ini. Hampir Rock Nyaris Seni, abu-abu memang, namun begitulan bentuk kecurigaan kami, yang entah beralasan atau tidak, mengalir hampir deras dan berdenyut nyaris kencang pada nadi FSTVLST.

HITS KITSCH atau KITSCH HITS, bebas mengurutkan penyebutannya, judul album yang kami potongkan dari lirik pada salah satu track di album ini. HITS dan KITSCH adalah 'hits' dan 'kitsch' itu sendiri, seperti yang setiap orang tau dan punya cara berbeda untuk melihat dan memaknainya. Sedangkan kami, saat melihat hal-hal yang terjadi di sekeliling jauh dan dekat kami, HITS dan KITSCH adalah anak haram dari perkawinan antara selera dan kepentingan-kepentingan, yang bisa berwujud sangat indah dan menularkan kebahagiaan, namun juga bisa menjadi kebusukan tak tertolong yang menyebar menggerogoti menebar ketidakbaikan. HITS KITSCH adalah apa yang kami lihat, dengar dan rasakan saat-saat ini, lalu kami makan, lalu kami hakimi dengan selera kami, lalu kami muntahkan kembali menjadi 10 track HITS KITSCH dengan sebuah alasan kepentingan sederhana kami, yaitu: berkarya sampai Tuhan tak berkenan.

untuk HITS KITSCH, bebunyian Roby dan teks farid dikerjakan secara paralel dan bisa dikatakan terpisah oleh keresahan khusus masing-masing yang ternyata juga tersambung dengan sendirinya saat menjadi materi bahan yang kemudian dikayakan bersama Danish dan Mufid di ruang studio. Ritual berkarya yang sejauh ini paling pas bagi kami, bahkan sejak album Manifesto. Track demi track dalam HITS KITSCH membicarakan tentang hal-hal yang terjadi tidak jauh dari kami. Kami tidak mau mengarang sesuatu yang tidak pernah kami alami dan rasakan, itu adalah patron utama harus kami jaga. Maka dari itu, tema-tema yang kami tawarkan dalam HITS KITSCH adalah tema-tema sederhana dan kadang cenderung sepele, jauh dari wacana-wacana besar. Tentang apa bagaimana cerita di belakang setiap track, sudah ada di sana semua, dalam bunyi-bunyiannya dan teksnya, dengarkan dan baca saja, tidak ada yang kami sembunyikan.

album ini tidak akan kami papar-tawarkan dengan gambaran-gambaran yang mengada-ada, setelah album ini rilis malam ini, apapun yang kami paparkan di atas serta merta menjadi nihil lagi, tidak bermakna apa-apa kecuali subjektifitas kami sebagai pengkarya. Selanjutnya, HITS KITSCH adalah milik siapa saja, silahkan merabanya, silahkan mengecapnya, silahkan menghakiminya dengan selera, silahkan mengukurnya dengan variabel bebas dan konstanta liar, seliar-liarnya, sebebas-bebasnya, semerdeka-merdekanya. Apakah album ini kemudian menjadi album yang keren (hits) atau album yang berselera rendah (kitsch), kami sudah tidak terlalu peduli lagi. Selagi kami masih bisa berkarya dan membaginya, rasanya sudah tidak harus mencari apa-apa lagi.

Dengan ini, dengan sangat berbahagia, kami FSTVLST mengumumkan, album perdana kami HITS KITSCH resmi dirilis. Kami ucapkan terimakasih kepada seluruh tim kerja, para kolaborator, teman-teman festivalist dan siapapun anda yang telah mengambil keputusan untuk mendukung FSTVLST dengan cara apapun. Selamat berbahagia.
Tracklisting FSTVLST HITS KITSCH

Track 01. Orang-orang di kerumunan
Track 02. Menantang Rasi Bintang
Track 03. Hujan Mata Pisau (re-recorded)
Track 04. Akulah Ibumu
Track 05. Hal-Hal Ini Terjadi
Track O6. Tanah indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan
Track 07. Bulan Setan Atau Malaikat
Track 08. Satu Terbela Selalu
Track 09. Hari Terakhir Peradaban (re-recorded)
Track 10. Ayun Buai Zaman

Track 11. (on cassete) The Only Way (Acoustic)
Track 12. (on cassete) Menantang Rasi Bintang (Demo)

berikut adalah teaser 10 track HITS KITSCH (klik di link ini)
HITS KITSCH dirilis dalam bentuk:
- digipack berisi cd HITS KITSCH, artworks booklet an sticker pack seharga Rp. 65.000 (available)
- boxset berisi digipack (cd HITS KITSCH, artworks booklet an sticker pack), T-shirt, handuk kecil, notebook, dan kaset seharga Rp. 250.000 (edisi pertama dicetak terbatas sejumlah 350 pcs) (available - limited)



HITS KITSCH boxset dan digipack bisa didapatkan via:
- merchman kami, dito 089672337296
- LIBSTUD, jl. cendrawasih 351B, pringwulung, jogja, 0274 530 5643
- dan beberapa titik distribusi yang akan segera kami publikasikan
Media Partners:

DOWNLOAD GRATIS HITS KITSCH DISINI







HITS KITSCH dirilis dalam bentuk:
- digipack berisi cd HITS KITSCH, artworks booklet an sticker pack seharga Rp. 65.000 (available)
- boxset berisi digipack (cd HITS KITSCH, artworks booklet an sticker pack), T-shirt, handuk kecil, notebook, dan kaset seharga Rp. 250.000 (edisi pertama dicetak terbatas sejumlah 350 pcs) (available - limited)

HITS KITSCH boxset dan digipack bisa didapatkan via:
- merchman kami, dito 089672337296
- LIBSTUD, jl. cendrawasih 351B, pringwulung, jogja, 0274 530 5643
- dan beberapa titik distribusi yang akan segera kami publikasikan


Video Orang-Orang Di Kerumunan


tanggal 22 juli 2014, bertepatan dengan momentum pengumuman hasil rekapitulasi pemilu 2014, FSTVLST merilis video resmi untuk single terbaru 'orang-orang di kerumunan'. video ini adalah rangkaian dari footage-footage yang kami ambil (pinjam) dari berbagai sumber. bukan apa-apa kecuali berisi harapan, hal-hal yang terjadi di video ini tidak akan terulang lagi di masa depan indonesia. video ada di tautan ini.   

orang-orang di dalam kerumunan berjejalan di lingkaran, mengitari satu altar sesembahan, mereka menari dengan mata terpejam kerasukan, jiwanya sudah tak lagi bersemayam. lalu meracau, tak setuju maka beda kubu, tak sepaham lantas baku hantam, yang seiman saling menerakakan, merekalah kerumunan yang lupa, kerumunan yang lupa, bahwasanya mereka kau dan ku sama, hanya manusia, sama manusianya, yang seharusnya, saling peluk selayak saudara, saling jaga seperti keluarga, berbagi cinta berbagi bahagia, menjauhi kerumunan yang lupa, kerumunan yang lupa, bahwasannya aku kau mereka sama. turut berbela sungkawa atas sekaratnya jiwa para berkerumun tertawa-tawa di sh sh sh sempitnya ruang bahagia yang seharusnya luas tak terbatas, dan turut berduka cita, atas tak berartinya bunga, terganti umpat, benci, caci, maki, bunuh dan lukai. benci dan lukai

disclaimer: video ini dibuat bukan untuk kepentingan komersial, menggunakan footage dan foto yang diambil dari berbagai sumber di internet. kami tidak memegang hak cipta atas footage dan foto tersebut. di dalam video ini mengandung banyak adegan kekerasan yang tidak patut untuk dicontoh.

FSTVLST MENOLAK LUPA - HIDUPLAH NUSANTARA RAYA

HITS KITSCH dirilis dalam bentuk:
- digipack berisi cd HITS KITSCH, artworks booklet an sticker pack seharga Rp. 65.000 (available)
- boxset berisi digipack (cd HITS KITSCH, artworks booklet an sticker pack), T-shirt, handuk kecil, notebook, dan kaset seharga Rp. 250.000 (edisi pertama dicetak terbatas sejumlah 350 pcs) (available - limited)

HITS KITSCH boxset dan digipack bisa didapatkan via:
- merchman kami, dito 089672337296
- LIBSTUD, jl. cendrawasih 351B, pringwulung, jogja, 0274 530 5643
- dan beberapa titik distribusi yang akan segera kami publikasikan
 

 

Cinta Untuk Jenny

Semalam, saat sedang berusaha menikmati hiruk pikuk hajatan politik bangsa ini di sebuah stasiun tivi, kawan yang selalu menemaniku menikmati semua suguhan akhir pekan di Jogja dua tahun lalu mengirimiku sebuah link lagu Jenny dari akun soundcloud FSTVLST melalui akun twitternya. Segera kubuka link yang ia kirimkan. Disana tertera lagu yang berjudul Jenny Menarilah. Saya agak terperanjat dan sedikit kaget karena tak pernah tahu kalau FSTVLST pernah mengunggah lagu ini. Kuingat-ingat lagi apa judul ini ada di materi album HITSKITCH dan juga tak kudapati lagu ini. Tak lama lagu ini mengalun di ruang dengarku dengan terbata-bata karena kuota internetku yang memang sudah sekarat dan diperparah dengan power ponselku yang mulai melemah lalu kemudian mati dan minta diberi energi baru. Jenny Menarilah yang ternyata adalah versi akustik dari Dance Song akhirnya terinterupsi padahal baru saja akan kurangkai rindu untuk Jenny. Tapi kerinduanku segera menemui awalannya saat si kawan yang juga adalah tetanggaku datang dengan kuota internet yang lebih cepat dan akhirnya kerinduan terhadap Jenny yang begitu terasa pada Dance Song versi akustik ini kembali kami rangkai sambil membiarkan atap rumah yang kami tatapi berubah menjadi kelebatan cerita masa lalu saat pertama kali mengenal Jenny. Sesi ini kami sudahi karena sadar ternyata malam sudah menua.

Pagi tadi, di tengah rasa yang tak mengenakkan di perut dan memaksaku harus bolak balik toilet, kubuka buku yang berisi tulisan-tulisanku dan ibu dari kedua anakku yang kami dedikasikan untuk anak pertamaku. Buku itu bertajuk Maha Tanpa Huruf Kapital. Kubuka lembar demi lembar dan kubaca setiap tulisan yang kami tulis beberapa tahun lalu. Lalu rasa rindu kembali menyelinap pelan saat kubaca tulisan istriku tentang Jenny. Tulisan yang ia buat tak begitu lama setelah panggung Jenny yang kudatangi pertama kali. Dan setelah membacanya kembali, kemudian kuberpikir untuk merepost nya kembali di blog ini. Hanya untuk sekedar berbagi cerita dan energi. Silahkan membaca....

Seperti biasa, aku selalu tahu saat komrad menyukai sesuatu. Dalam tiap perbincangan kami , dia pasti tidak akan lupa menyelipkan segala hal tentang yang ia sukai itu. Aku lupa tepatnya kapan, seingatku setelah ia menyaksikan konser musik yang diadakan oleh sebuah kampus di Jogja sana. Komrad menikmati sisa harinya di sana untuk menikmati segenap”keramahan” Jogja. Aku dan komrad punya selera musik yang hampir sama. Terlepas bahwa semua lagu, musik, adalah sebuah karya yang patut diacungi jmpol, kami tidak berhenti menertawai industri musik yang juga tidak brhenti menelurkan generasi cengeng yang mendayu-dayu. Tapi jujur, kami juga sering menikmati lagu-lagunya. Karena terlalu sering didengar, kami juga tahu banyak liriknya. Tapi, itu tidak menghentikan cercaan dan rasa miris akan generasi musik yang dihadapi “maha” bertahun-tahun ke depan.


Oh yach, malam itu komrad mengenalkanku dengan Jenny. Komrad, tidak berhenti mengutarakan kekagumannya malam itu. Dan aku tahu, dia sedang jatuh cinta. Awalnya, aku tidak terlalu bersemangat, aku tahu komrad selalu punya harapan besar lewat karya musik yang bisa dijadikan instrumen membangun karakter bangsa. Cerita komrad yang sesekali terputus karena ia mendendangkan musik jenny sekaligus, membuatku mulai penasaran. Toh kita tahu beberapa band alternative yang lagu-lagunya diperdengarkan pada maha sejak dini, itung-itung sebagai counter atas gempuran musik-musik anak muda kebanyakan.


Di hari-hari berikutnya, komrad tidak berhenti membicarakan Jenny. Di ujung telpon aku bisa tahu bagaimana ekspresinya. Sampai pada satu hari, aku betul-betul tertarik saat komrad menegenalkan lagu “Maha Oke”. Karena koneksi internet yang tidak terlalu mudah untuk kuakse mengingat kesibukan sebagai ibu, sampai hari ini aku belum mendengar lagunya. Namun, komrad telah membacakan liriknya. Dan kalian tahu, aku terkesima. Bukan hanya karena ada kata “maha” di sana, yang selama ini menjadi panggilan si kecil kami, tapi liriknya secara keseluruhan mengagumkan, berbicara tentang ketauhidan, dan kepercayaan, pada Sang Maha Oke, satu-satunya Maha Ok dianatara semua yang Ok. Dia mengemasnya sangat anak muda.


Setelah itu, “Maha Oke” tidak berhenti dibicarakan. Apalagi setelah maha kami mendengarnya lewat telpon melalui suara bapaknya. Ia tertawa terkekeh, sambil mengualnginya. Katanya “ mammma oce…mamma oce…. Jika bapak komradnya menelpon dia pun selalu bertanya” bapak oce? Ibu oce? Mammmma (caranya menyebut maha)oce?” lalu tertawa. Seringkali saat beraksi di rumah, mengambil jimbenya dan berteriak “mammma oce…mamma oce…, sambil mlompt-lompat dan bersemangat.” Si kecil kami, tahunya lagu ini, adalah lagunya. Lagu untuknya.


Beberapa waktu lalu, pembicaraan tentang jenny semakin gencar, apalagi saat “Hari Terakhir Peradaban” akan diluncurkan. Komrad bilang “ seperti menunggu sebuah kelahiran”. Dan sesaat setelah komrad mengakhiri penantiannya, lirik hari terakhir peradaban ia bacakan. Aku terenyuh. Yah aku sadar “ aku salah satu diantaranya”


dan inilah harinya banyak wanita

menjadi budak atas kelaminnya
memeluk agama tanpa tuhan
yang ibadahnya adalah belanja

Toh seberapa kuat, aku memusuhi nafsu belanja, ia selalu tumbuh seperti jamur, merayu seperi iblis. Begitu pikirku saat komrad membacanya di ujung sana.


Tidak seperti biasa, aku bisa menggambarkan wajah, bentuk personil band saat telah mengetahui lagu-lagunya, kali ini tidak. Komrad hanya bilang kalau mereka tamatan ISI. Dan, beberapa malam lalu, saat komrad pulang dari malam “mudanya”, menikmati konser Jenny sambil jingkrak-jingkrak dan teriak. Wahhh…, dia memberi tahu beberapa hal yang unik. Aku semakin penasaran. Akhirnya, beberapa lagu Jenny singgah juga di komputer ini, komputer yang jarang dibuka, karena harus menunggu maha terlelap dulu, atau jika tidak, ia pasti hanya akan meminta diputarkan lagu Ipin-Upin, berkali-kali hingga bosan.


Pagi ini, entah karena apa, saat memyalakan komputer,maha tidak  merengek meminta diputarkan Ipin Upin, maka kudengarkan lagunya Jenny. Agenda yang tertunda sejak dua hari lalu. Musiknya yang menghentak, membuat maha mengambil gitar kecilnya, mengikuti ibunya, bergaya rocker, mengibaskan rambutnya, menggoyangkan badan dan kepalanya, menikmati lagu “ Menangisi Akhir Pekan”. Kami tertawa bersama. Aku yakin dia tidak tahu sama sekali ttg lagu ini, dia cuma mengulang kata “tujuh dan ujung”. Setelah habis. Dia bilang “ aji….aji…” lagi katanya.


Lagu ini kami ulang berkali-kali, betul. Aku juga dan semua para pekerja, harus menangisi akhir pekan. Biasanya, akhir pekan selalu menjadi tumbal atas semua penat yang terasa. Tapi, akhir pekan tidak pernah cukup. Akhir pekan selalu berjalan lebih cepat. Karena itulah aku menangisinya. Dan dintara beberapa lagu yang bisa diputar. Aku paling suka lagu itu. Soalnya “Maha Oke” belum kudengar langsung. Namun semua liriknya kuresapi kata demi kata. Keren!!! Hampir semua kusetujui, kecuali mati muda. Saat kuliah dulu, aku selalu ingin mati muda. Mati muda agar tidak bertemu dengan penyesalan. Tapi, semua itu berubah sejak ada “maha”. Aku ingin melihatnya bernyanyi, Menyanyikan lagu Jenny pastinya. Saya sepakat, “Nyala pasti akan padam, tapi sebelum ia benar-benar padam, jentikkan sedikit api di sumbu yang baru, agar ia tidak pernah betul-betul padam”.


Satu hal yang bisa kusimpulkan pagi ini, setelah ditemani beberapa lagu Jenny. Akhirnya aku tahu, kenapa komrad jatuh cinta pada Jenny. Karena aku juga mulai jatuh cinta. Semoga banyak cinta yang tumbuh pada band seperti Jenny, yang tidak memburamkan masa depan musik generasi muda mendatang. Generasi maha.


ibunya maha

Saya mencoba membedah mengais-ais ingatan saya yang berjejalan bertumpuk di saku rekam otak. Benar saja semua tidak raib begitu saja, saya merentas sebuah moment dipertengahan 2011. Saat itu dibilangan Gejayan event musik lokal bertajuk ‘'Block Party' sedang dihelat, satu nama baru muncul pada bangunan kotak pertunjukkan. Tampak kain putih membentang menutup muka panggung, dari dalamnya tampak empat sosok tubuh menjelma sebagai bayangan dari balik kain, sorot pijar lampu menyala terang mencoba mengeja dan melafalkan abjad-abjad yang tertulis pada bentangan kain putih itu, tersebutlah FSTVLST. Ya, semacam prosesi kelahiran jabang bayi atau reinkarnasi perwujudan dari anak gadis 8 tahun yang bernama Jenny.

Kini hampir 3 tahun rekam jejak mereka, nama itu semakin berkilau menyilaukan mata para pelajar, mahasiswa sampai kelas para pekerja. Mendoktrin lewat lubang kecil telinga dengan track-track ampuh yang memperdaya. Ditambah peminat-peminat baru yang ingin lebih dekat mengenal namun masih sungkan dan malu-malu. Mereka semua adalah FESTIVALIST, penikmat dan kerabat dari FSTVLST sendiri yang semakin tumbuh dan besar, dengan pupuk kesetaraan yang mereka tebar pada altar-altar panggung dan pertunjukkan.

Dalam kurun waktu sepak terjang mereka selama ini, FSTVLST memposisikan diri tidak hanya sebagai band, namun juga teman dan pengayom untuk teman-teman FESTIVALIST, memberdayakan mereka untuk tidak hanya menjadi penikmat tapi juga dapat beperan sebagai pelaku langsung dalam berbagai kegiatan. Terbukti beberapa gelar karya pertunjukkan musik seperti FESTIVALIST #1 hingga FESTIALIST #3 dengan berbagai tema dan maksud yang kesemuanya disengkuyung oleh teman-teman FESTIVALIST sendiri, mampu menjadi ajang pertemuan lintas generasi, lintas genre, bertukar pikiran dan mengenal teman-teman baru. Hal itu terlihat dari orang-orang yang datang dengan pembawaan diri yang berbeda-beda. Selain itu dapat juga dijadikan sebagai arena unjuk gigi, bagi band-band lokal baru dan pelaku lama yang tidak mendapatkan jatah tempat sebagai pengisi dan penghibur event PENSI di Jogjakarta.

FSTVLST sendiri dalam kurun waktu 2013 disibukkan oleh penggarapan album perdana mereka 'HITS KITSCH', keseriusan itu tampak dari rangkaian proses kreatif yang bertajuk FSTVLSTRCRDPRJCT (FSTVLST RECORD PROJECT), sebuah pertanggung jawaban mereka atas karya yang sangat dinantikan oleh para FESTIVALIST.Kini kabarnya proses itu akan sampai pada puncaknya, HITS KITSCH merangkum 10 track yang  beberapa diantaranya sudah sering sekali dilantunkan disetiap pementasan FSTVLST.

Yang menarik dalam album tersebut, FSTVLST menawarkan lirik dari semua lagu dengan bahasa Indonesia, tentu penggarapan  dan penulisan lirik yang tidak gampang untuk genre musik yang seperti FSTVLST usung sekian lama ini.

Pada 28 November 2013 lalu, FSTVLST merilis sebuah single yang terdapat dalam album HITS KITSCH yang berjudul Ayun Buai Zaman, disusul pada 12 April 2014 lalu FSTVLST kembali merilis single kedua dari album ini yang berjudul Orang-Orang Di Kerumunan, dengan antusiasme yang besar dari para khalayak terhadap dua track ini, membuatnya mampu bercokol diradio-radio dengan euforia yang masih terasa sampai saat ini. Sekaligus mampu menjadi penawar tidur atas jelaga dalam  penantian panjang para FESTIVALIST tentunya. Jika menyimak dari 2 track yang telah mereka umbar tentu memunculkan pertanyaan bahkan pernyataan, orang akan menjadikan Jenny sebagai sebuah perbandingan, sah-sah saja.

Perbedaan yang mencolok jika dikaitkan dengan materi yang terangkum pada debut album Jenny “MANIFESTO”, namun dipenglihatan saya yang tidak paham betul tentang musik, malah akan menjadi pertanggung jawaban yang gagal jika FSTVLST mengangkat lagi bebunyian-bebunyian lama seperti yang pernah ada pada masa emas Jenny dahulu, jika sementara FSTVLST tidak mampu untuk meraih atas apa yang pernah Jenny capai saat itu, lalu akan muncul perbandingan-perbandingan panjang dibelakangnya lagi. Dan hal yang positif menurut saya dengan racikan FSTVLST saat ini, lewat pencarian-pencarian indentitas sekian lama ini, mengais lagi yang pernah ada, atau hal-hal baru yang mereka temui mempengaruhi cara pandang bermusik, memperkaya dan mendewasakan karya-karya mereka. Gebukan Drum Danish yang tidak lagi terlalu disibukan oleh hi-hat ala New York Sound, serta suara raung Guitar Roby yang berani mengexplore habis-habisan bebunyian efek digitalnya, menunjukan FSTVLST berani keluar dari kotak-kotak tertentu. Dan gaya bernyanyi Farid dengan artikulasi yang sangat jelas mempertegas melafalkan lirik demi lirik, membungkus kata dan bahasa dengan baik jauh dari gaya bermalas-malasan ala Julian, tentu dengan maksud atas apa yang mereka sampaikan dapat masuk keindra dengar pendengarnya, dan dapat meninggalkan kesan dari setiap isi lagunya.

Namun masih terlalu pagi mengupas amunisi-amunisi baru FSTVLST, hanya dengan 2 lagu anyar yang belum lama ini mereka rilis, Tentu tidak cukup dijadikan sebagai cerminan dan bahan baku menilisik lebih jauh sebuah album.

HITS KITSCH memberikan kita ruang tunggu untuk duduk bersantai mencicip teh, lalu membenamkan mata kita pada media-media sosial yang ramai berjejalan meletakkan namanya. Ya, sebelum rilis album nanti proses pre-order telah dibuka oleh FSTVLST lewat media-media sosial mereka. Menawarkan paket terbatas berupa BOXSET yang didalamnya terdapat TOTEBAG, HARDCOVER BOX, ARTWORKS BOOKLET, CD, CASSETE, STICKER SET, NOTEBOOK, TEES, SMALL TOWEL dengan harga Rp. 250.000. Strategi yang jitu untuk sebuah band mandiri, mereka orang-orang yang menghidupi sebuah band, bukan orang-orang yang hidup/numpang didalam sebuah band. Orang-orang pelaku kreatif yang patut kita apresiasi atas karya-karyanya.

Yogyakarta, 16 mei 2014

foto dari tumbr: trulicious

Memilih Utuh Dalam Karya

Di hampir pertengahan April kemarin, oleh salah satu media sosial saya diberi kabar kalau FSTVLST beberapa jam lagi akan merilis single berikutnya yang juga akan menjadi amunisi di album baru yang semoga tak lama lagi akan diperdengarkan ke khalayak. Sebelumnya mereka telah merilis Ayun Buai Zaman yang membuatku harus berada tak jauh dari laptop sambil streaming lagu itu yang diputar berkali-kali di salah satu radio QWERTY berbasis di kota Jogja sebelum akhirnya mendapatkan link unduh dari radio ini juga. Dan itu saya lakukan sambil mengayun si kecil. Jadi sambil mengayun sekaligus mendengarkan dengan seksama untaian Ayun Buai Zaman. Benar-benar perpaduan yang kompleks dan membahagiakan. Tepatnya sangat bahagia meski ada rindu terselip di setiap akhir nada.

Orang-Orang di Kerumunan, begitu mereka (baca: FSTVLST) menamai single yang mereka rilis dengan cara yang tak biasa, seperti biasanya, di hampir pertengahan bulan April kemarin. Jadi pada waktu yang ditentukan, single ini diputar secara serentak di beberapa radio di beberapa kota. Saya sendiri segera mempersiapkan segala sesuatunya agar tidak kelewatan momentum penting ini. Aplikasi radio QWERTY yang ber-tagline “Karena Galau Adalah Harapan” segera kuunduh dengan harapan disaat lagu itu dirilis dan diperdengangarkan atau direquest oleh para Festivalist, saya juga tak ketinggalan.

Mungkin anda percaya kalau segala yang anda benar-benar tunggu,maka biasanya akan ada hambatan kecil yang merintang. Kira-kira seperti itu yang saya rasakan malam itu. Saat media sosial member kabar kalau Orang-Orang di Kerumunan sudah bisa direquest, saya lalu beranjak ke radio online yang sebelumnya sudah kuunduh aplikasinya dan kemudian kuaktifkan. Tapi hingga beberapa jam radio itu selalu off-line. Upaya yang lain kucoba juga tak berhasil. Saya mulai panik karena merasa akan kehilangan momentum. Lalu segera kulayangkan pesan via akun kicauku ke akun kicau resmi FSTVLST meminta agar lagu itu dishare ke salah satu radio di Makassar. Meski diiyakan tapi hingga keesokan harinya lagi itu belum juga kudengar. Dan akhirnya Orang-Orang di Kerumunan bisa kudengar dengan puas sambil menghayati setiap inci lagu itu beberapa hari setelah pertama kali ia diperdengarkan di udara.

Sebelum kemana-mana, saya sebenarnya ingin bercerita sesuatu yang menghampiri saya saat sedang panik-paniknya karena setelah beberapa jam tak juga bisa menjadi “orang-orang pertama” yang mendengarkan “Nasehat Bijak” khas FSTVLST di lagu barunya. Jadi sesaat setelah berkicau di akun twitter Kedai Buku Jenny meminta lagu itu dibagikan ke radio-radio di Makassar agar kami juga bisa mendengarkan, tak berapa lama salah seorang dari Festivalist meminta link unduh Orang-Orang di Kerumunan. Hal serupa juga dilakukan beberapa Festivalist saat mereka belum kebagian link unduhan Ayun Buai Zaman.

Saya yang masih tengah berusaha agar bisa mendengarkan langsung dari radio, mendapatkan kicauan itu tentu agak reaksioner tapi akhirnya tertawa. Bagaimana bisa memberi lawong saya juga masih berusaha. Dan kalaupun saya punya saat itu, hampir pasti tak akan saya beri. Dan saya punya beberapa alasan untuk pilihan tak memberi itu. Pertama, bukannya kikir atau semacamnya tapi saya ingin saja teman-teman ini menikmati kepanikan yang berbalut kerinduan, seperti yang saya rasakan, karena yang ditunggu tak juga kunjung menyapa dan mengetuk pintu. Dan menjumpai sesuatu atau seseorang yang dirindukan dengan perjuangan yang lebih selalu mempunyai sensasi dan cita rasanya sendiri. Dan perjuangan untuk mencapai apa saja bukankah memang membutuhkan kesabaran ekstra? Dan akhirnya perpaduan antara kesabaran dan perjuangan adalah amunisi ampuh untuk mencapai kualitas hidup sebagai manusia. Manusia yang tak akan mudah berpaling hanya karena ayun buai zaman yang sering melenakan dan membuat kita menjadi bagian dari kerumunan mereka yang lupa. Hmm..

Sejak kembali ke Makassar dan mulai merapikan semua mimpi-mimpi di kedai buku yang kami kelola, saya mulai bertemu dengan anak-anak muda pekerja seni (ben-benan) di kota ini dan bercerita banyak hal. Mereka punya banyak mimpi yang belum diwujudkan. Mimpi untuk menghasilkan karya yang bagus, bagus tidak hanya untuk pencapaian pribadi tapi untuk kehidupan bersama, untuk kota yang kami naungi bersama. Berkali-kali kami bertemu dan berdiskusi hingga akhirnya kami di Kedai Buku Jenny sepakat bahwa mimpi mereka juga adalah mimpi kami dan sudah saatnya untuk saling membantu dan mengerjakannya bersama-sama. Karena untuk mencapai mimpi-mimpi itu ternyata memang tak begitu mudah.

Agak tak adil rasanya menuntut mereka membuat karya yang baik dan berkualitas dan lalu menuntut mereka juga untuk mendokumentasikan semua yang mereka lakukan sendirian. Menuntut mereka memproduksi karya-karya inspiratif tapi kita masih juga tak punya cara yang baik untuk mengapresiasi upaya serius yang mereka lakukan. Karena itu, kami coba mengapresiasi kerja keras mereka dengan cara kami. Menyediakan ruang distribusi komersial karya mereka meski kami sangat tau diluar sana link unduhan lagu-lagu mereka terbagi cuma-cuma,  membuka ruang diskusi tentang apa saja yang “beyond music” dengan harapan akan memberi sentuhan lain pada karya-karya teman-teman berikutnya meski ruang dikursus tentang tema-tema ini masih jarang di kota ini. dan hingga kini kami masih saja memutar otak untuk menemukan metode-metode baru untuk mengapresiasi dan mengagregasi karya-karya teman-teman kami itu. Singkatnya, apresiasi yang anda berikan sebaiknya dapat menjadi serupa amunisi baru bagi lahir dan berkualitasnya karya-karya berikutnya. Selemah-lemah iman yah belilah rilisan fisik karya-karya mereka yang anda tau menghasilkan karya dengan tak mudah dan punya mimpi besar di karya itu. Dan inilah alasan kedua dan terakhir saya.

Terakhir, ini memang soal pilihan. Pilihan untuk menjadi bagian penting dari keseluruhan karya atau anda memilih menjadi bagian dari mereka yang puas dengan hanya menikmati tanpa apresiasi. Silahkan memilih!

Oh iya, kemarin saya mendapatkan kejutan dari istri. Baru berencana mau order album boxet FSTVLST eh ternyata dia sudah ngorder duluan. What a surprise!

Makassar, 1 Mei 2014
Belia Pagi

debut album FSTVLST - HITS KITSCH - pre order BOXSET



long awaited debut album from the almost rock barely art band

FSTVLST - HITS KITSCH

10 tracks
- ayun buai zaman
- bulan setan atau malaikat
- orang - orang di kerumunan
- hari terakhir peradaban (re-recorded)
- hujan mata pisau (re-recorded)
- hal - hal ini terjadi
- tanah indah untuk para terabaikan, rusak dan ditinggalkan
- satu terbela selalu
- menantang rasi bintang (full version)
- akulah ibumu

available in boxset album:
 cd, cassete, totebag, tees, stickers, artworks booklet, notebook, small towel, hardcover paper box.

Rp. 250.000

PRE ORDER - FSTVLST HITS KITSCH BOXSET

via email: kirim email ke fstvlstshp@gmail.com dg subject: FSTVLST HITS KITSCH BOXSET
via sms: kirim sms ke 0896 7233 7296 dengan format: FSTVLST HITS KITSCH BOXSET

akan kami balas dengan form pre order, isi dengan lengkap, kirimkan kembali ke alamat email atau nomor sms tadi. pembayaran dengan DP Rp. 150.000 atau langsung lunas, maksimal 7 hari setelah konfirmasi pre order dari tim kami. boxset akan dikirim minimal 30 hari setelah pembayaran DP

untuk info lengkap, sms atau telfon ke nomor hotline: 0896 7233 7296 (dito)

terimakasih,

FSTVLSTMNGMNT

Single Release - Ayun Buai Zaman



sejauh mata memandang, hamparan kilau keemasan, sepertinya ini puncak angan-angan. namun apapun yang pernah tergenggam pasti akan memudar lalu hilang. hitungan kepemilikan, baptis sosialita, yang sejatinya buaian fantastika. hits namun kitsch, hujan blitz, padahal gulita. naik-naik ke puncak gunung kasta, mati lelah karena terlalu berusaha, mari tertawa di pemakamannya. lencana kepemimpinan legitimasi kuasa, yang sesungguhnya mainan monyet saja. insting hewani, primitif, berias budaya. sikat-sikut ke puncak mercu kuasa, mati naas tertimpa berat perutnya . mari kencingi batu nisan kuburnya. sejauh pandang mata, hamparan kilau emasnya, sepertinya puncak angan. ini buai ini buai, buain fantastika, ini buai ini buai ini buai, ayun buai zaman. sejauh mata memandang, hamparan kilau keemasan, sepertinya ini puncak angan-angan. namun apapun yang pernah tergenggam. pasti akan memudar lalu hilang 

'Ayun Buai Zaman' adalah single terbaru FSTVLST yang dirilis sebagai bagian dari debut album FSTVLST yang rencanyanya akan dirilis utuh pada awal januari 2014. Proses pembuatan album ini terangkum dalam FSTVLSTRCRDPRJCT (festivalist record project) yang sudah dimulai sejak pertengahan 2013. Serangkaian eksplorasi kreatif kami lakukan untuk mendefinisikan kembali musik FSTVLST tanpa meninggalkan identitas-identitas yang sudah terbangun sejak band ini masih bernama Jenny. 'Ayun Buai Zaman' adalah lubang kecil untuk mengintip isi album FSTVLST nanti. Semoga bisa jadi rilisan yang 'mBerkahi' dan membahagiakan teman-teman semua. 

'Ayun Buai Zaman' akan diperdengarkan untuk pertamakalinya kepada teman-teman via 'pamityang2an qwerty radio' dalam program FSTVLSTRLS2AN, 27 november 2013 pukul 20.00-21.00, kemudian bisa diunduh gratis lewat klik pada tautan-tautan ini:

Bagi yang sudah mengunduh, silahkan dinikmati dan dibagikan melalui akun sosial media masing masing dengan format: 'follow twitter @pamityang2an dan dibales DM single baru @FSTVLST - Ayun Buai Zaman' 

Teman-teman juga bisa mendapatkan rilisan ini secara gratis dengan cara kirim email ke: fstvlstblog@gmail.com dengan subject: AYUN BUAI ZAMAN, lalu akan kami balas secara bertahap dengan materi lagu 'Ayun Buai Zaman'. Bagi yang sudah kirim email dan sudah kami balas, silahkan dinikmati dan dibagikan melalui akun sosial media masing masing dengan format: 'kirim email ke fstvlstblog@gmail.com dibalas single baru @FSTVLST - Ayun Buai Zaman'. jangan lupa tambahkan komentar jika masih ada sisa jatah karakter :)

'Ayun Buai Zaman' - direkam di Rockstar Studio, mixing dan mastering oleh: Anton Gendel di Yayasan Seni Bagong Kusudiharja. FSTVLSTRCRDPRJCT 2013. 

sejauh mata memandang, hamparan kilau keemasan, sepertinya ini puncak angan-angan. namun apapun yang pernah tergenggam. pasti akan memudar lalu hilang :). terimakasih. 

FSTVLSTVSP


graphic illustration made by LIBSTUD

FSTVLST di JNM


fotografer panggung yang sangat masyaAllah karyanya, terimakasih mas Nadzarudin untuk rekam momennya. ini adalah jathilan FSTVLST waktu itu di JNM, menyambut kawan-kawan Morfem yang sedang mengadakan tour. untuk set foto lebih komplit, bisa langsung japri ke Flickr mas Nadzarudin, klik disini. terimakasih. 

Maha bertanya tentang Tanah Indah



Salah satu alasan mengapa hidup ini terus punya cara untuk membuat kita takjub karena terlalu banyak tanda tanya dan teka-teki yang belum terjawab dan terkuak. Bahkan pertanyaan-pertanyaan yang telah ada sejak peradaban homo saphiens dimulai hingga kini masih terus dipertanyakan dan meski telah banyak jawaban yang dilahirkan. Dan memang seperti itu, tanya dan jawab adalah bagian penting dari rotasi yang bernama kehidupan ini.
*
Sejak masih kecil maha, jagoan kecilku yang pertama, telah akrab dengan Jenny. Awalnya, Jenny kuperkenalkan kepada Ibunya. Beberapa lagu hasil unduhan kukirimkan kepada Ibunya maha. Setelah didengar dengan seksama, ia tertarik dengan berbagai alasan. Salah satunya karena lirik didalam lagu-lagu Jenny sangat sarat makna dan alasan-alasan itu ia tulis di blog keluarga kecil kami. Nah, selanjutnya Jenny diperkenalkan Ibunya kepada maha. Selain memutar lagu itu setiap pagi saat memulai aktivitas, Ibunya yang memiliki suara yang merdu sering menyanyikan beberapa lagu untuk maha. Paling sering lagu maha Oke. Bagi maha, lagu ini khusus dicipta untuknya. Dengan lidah yang belum bisa menyebut huruf R, maha akan menimpali dan berteriak keras “maha oce, maha oce”...hahaha...

Di kamar kami juga telah lama tertempel poster yang bergambar awak FSTVLST yang berlatar putih. Sesaat setelah poster itu kutempel di dinding tripleks kamar, maha bertanya “Papa Bebi, ini Jenny?” Dan saya mengangguk membenarkan. Selanjutnya, ia mulai bertanya satu per satu nama orang yang berada di poster itu. Saya memperkenalkannya satu per satu, dan setelah itu maha paling ingat dengan gambar Oom Farid. Selain karena pernah menulis surat untuk maha dalam buku bertajuk maha tanpa huruf kapital, maha juga sudah pernah bertemu langsung dengan Oom Farid saat bersama Ibunya ke Jogja menghadiri acara wisudaku. Dan begitulah, maha sepertinya telah menganggap jika Jenny adalah bagian dari keluarganya bahkan disaat usianya masih dalam kategori balita.

Kini maha telah berusia 4 tahun dan belum genap sebulan ia barusan punya adik baru. Di tahunnya yang keempat ini, maha mulai menunjukkan banyak perkembangan yang sering kami –sebagai orang tuanya- tak prediksi. Dari mulut yang imut itu, ia seringkali memproduksi kata bahkan kalimat yang entah dari mana ia temukan. Suatu waktu saat sedang berkendara motor bersamaku, tiba-tiba ia bertanya “Papa apa itu imajinasi?” Saya tentu tak bisa langsung memberikan jawaban yang langsung bisa memuaskan. Dan jika seperti itu, ia akan terus memburu hingga ia puas dengan jawaban yang kita berikan. Tentang imajinasi ini, sepertinya maha sangat terpengaruh dengan lagu yang beberapa waktu lalu sering ia dendangkan. Ingat lirik ini “siapa yang membutuhkan imajinasi jika kita sudah punya televisi.” Yup, lagu milik Melancholic Bitch yang dinyanyikan oleh anak berumur 4 tahun.

Kebiasaan maha bertanya memang sering memusingkan banyak orang, termasuk Om-om dan tante-tantenya di Kedai Buku Jenny tempat kami menetap beberapa bulan ini. Dan kemarin malam maha kembali berulah tapi kali ini di Bone –kampung halaman istriku- saat saya tidak bersama mereka. Jadi semalam Ibunya maha mengirimkan pesan pendek ke saya. Isi pesannya “beritahu Oom Farid, siap-siap lirik lagunya diubah sm maha. Dr tadi dia nyanyikan Tanah Indah versi maha...hahaha” Segera pesan itu kusampaikan ke Oom Farid via inbox FB dan seperti yang kukira Oom Farid tertawa terbahak-bahak dan balik bertanya bagaimana lirik Tanah Indah versi maha. Kembali kutanyakan ke Ibunya dan segera dijawab kalau semalaman maha bernyanyi lagu tanah Indah Untuk Para Terabaikan, Rusak dan Ditinggalkan dengan versinya. Jadi lirik Tanah Indah semua diubah dengan bertanya, kenapa menetes kencang?  apa yang dibakar? Dan semua lirik dilagu itu diubahnya menjadi pertanyaan. Dan dia melakukan itu sambil mendendangkan nada-nada Tanah Indah yang begitu dihafalnya. Kubayangkan ia bernyanyi lantang dengan menirukan gaya panggung Oom Farid seperti yang ia liat di beberapa file video yang sering kuputar. Hahahaha........

Pagi ini, saya kembali memutar lagu Tanah Indah Untuk Para Terabaikan, Rusak dan Ditinggalkan dan kembali bertanya tentang banyak hal yang sering lupa kutanyakan termasuk tentang tanah yang sedang kupijak hari ini. Di akun twitter Kedai Buku Jenny kutulis “siapa nih teman pencerita yg mau diajak terbang bersama ke tanah indah untuk para terabaikan, rusak dan ditinggalkan? Dan saya rindu Jogja.

Terima Kasih jagoan kecilku sudah mengingatkan!

Belia Pagi
Makassar, di Penghujung Mei

demo video for demo audio


Menantang Rasi Bintang, adalah lagu demo yang sempat kami rilis secara resmi pada project twitter 500 followers 1 acoustic (yang sekarang sedang idle, karena kami sedang fokus pada penggarapan album FSTVLST). Lagu demo ini sudah selalu kami mainkan di panggung-panggung dan festival-festival terakhir kami. 

waktu itu sudah larut malam, beberapa hari setelah rilis demo ini, di studio kami, obrolan ringan kesana-kesini antara Gulita Benderang dan teman-teman LEPAS KENDALI (Yohanes Catur, Gilang Kusuma, dan Widyasto) dan mas Anthusa (LIBSTUD) membawa kami ke ide membuat video ini. tidak butuh pertimbangan terlalu lama, konsep sederhana terputuskan, lalu beruntun satu demi satu disiapkan. story board, timeline produksi, alat, crew call, dan pagi itu juga langsung berangkat ke lokasi. Pantai Pok Tunggal di Gunungkidul. jam setengah 6 pagi kami sudah sampai, langsung sikat scene demi scene, take demi take. sambil piknik. sebuah video yang dibuat dengan proses persiapan yang sangat sederhana, tidak bertele-tele. hanya... kami lakukan saja. seperti yang pernah kami tulis di Dance Song, 'Stop thingking too much, just start your steps'. maka jadilah video ini, demo video untuk demo audio Menantang Rasi Bintang, yang bisa teman-teman lihat di YOUTUBE (klik) dan VIMEO (klik). 

Terimakasih tim LEPAS KENDALI dan LIBSTUD, dan juga teman-teman semua telah memustuskan untuk selalu mendukung FSTVLST, dari waktu ke waktu. 

Curhat Sore Hari dan Tanah Tumpah Darah



Saat masih kuliah dulu, bersama teman-teman se kost kami punya semacam konsensus bahwa sesi curhat hanya akan kami hela setelah jam 11 malam dan lampu mesti dimatikan. Tak tahu sejak kapan dan siapa yang mengusulkan konsensus yang hingga kini sepertinya masih kami taati itu. Yang pasti, saat salah satu dari kami menunjukkan gelagat mau curhat, maka serentak siapa saja yang merasa menjadi bagian dari konsensus itu akan mencari jam dinding atau segera melirik ke jam tangannya memastikan apakah waktu curhat sudah tiba. Jika belum, maka bersabarlah hingga waktunya tiba. Oh iya, sepertinya konsensus ini hanya berlaku jika tema curhatan kawan berhubungan dengan belahan hati dan pernak perniknya, untuk tema lain seperti curhat soal negeri yang carut marut ini sepertinya bisa kapan saja...

.........................

Beberapa sore lalu, seorang kawan dari Jogja menyapaku via layanan chat facebook. Tak seperti biasanya, bahkan kalau tak salah ini kali pertama kami berkomunikasi memanfaatkan ruang ini. Biasanya kalau bukan lewat sms atau lewat inbox FB atau twitter. Rupanya ia hendak memohon maaf karena beberapa sms ku,termasuk ucapan selamat ultah yang ke 9 buat adiknya yang bernama sama dengan bassist Red Hot Chili Papper, yang beberapa hari sebelumnya tak dapat ia balas karena smart phone nya sedang bermasalah.

Setelah ucapan maaf, lalu kami saling memberi kabar mengenai tempat baru kami. Saya bercerita bahwa Kedai Buku Jenny beberapa hari kemarin menempati rumah baru yang kontrakannya baru kami bayar separuh di sebuah kompleks perumahan yang tak begitu jauh dari Unhas dan hanya “sepelemparan tombak” dari rumah si Mudah Rebah.  Kawan saya ini juga bercerita tentang sebuah tempat barunya di bilangan Bugisan, Jogja bersebelahan dengan Teater Garasi yang ia namai LIBCULT, serupa studio budaya.

Setelah puas bercerita tentang masing-masing tempat baru kami beserta mimpi-mimpi besar didalamnya, saya lalu meminta izin kepada si kawan untuk mendengar curhatku, curhat sore hari. Si kawan mengiyakan dengan antusias. Saya lalu bercerita tentang mimpi besar kami di Kedai Buku Jenny (KBJ). Kedai buku ini belum lagi genap berumur dua tahun namun dari waktu yang singkat itu kami belajar bahwa memang tak begitu mudah menyusun serpihan-serpihan semangat dan mimpi menjadi serupa “rumah” yang hangat dan sederhana dimana mimpi-mimpi benar-benar menjadi nyata. Semuanya tak semudah saat mimpi-mimpi besar ini kami susun dengan runut sesaat setelah bertemu “Jenny” di Jogja beberapa tahun kemarin. Berbagai persoalan mendera, mulai dari persoalan yang remeh-temeh hingga yang berurusan dengan hal-hal yang prinsipil. Tapi kami terus belajar, dan tak ragu untuk mengambil keputusan bahkan saat ia begitu sulit untuk dilakukan. Mimpi kami terlalu besar di kedai buku ini.

Si kawan terus menyimak dan sesekali menimpali. “Rumahnya harus teduh dulu supaya nanti pas jalan ga sibuk mindah2in ember buat nampung bocoran”, begitu katanya soal kepindahan kami ke rumah baru.

Hmm, saya setuju. Semuanya memang harus dipikir matang-matang. “Saya pengen banget nanti akhirnya sy sendiri bisa meneruskan KBJ di jogja” begitu lanjut si kawan terus menyemangati.

Sesi curhatku selesai. Loading semangat anyar telah usai. Dan tak kusangka si kawan juga memohon satu sesi lagi, masih curhat sore hari. Dan menurutku kali ini lebih serius.

Setelah memastikan bahwa saya siap menyimak, si kawan lalu memulai sesi ini dengan kegelisahannya soal hidup ini. “Entah mengapa, menginjak 30, ujung itu terasa semakin dekat.”

“Saya hampir tiap hari merasakannya,” begitu timpalku.

Melanjutkan curhatnya, si kawan mulai bercerita tentang keresahannya. Keresahan yang kupikir seharusnya dirasakan oleh siapa saja yang sadar benar bahwa semua awal pasti memiliki akhiran. Keresahan yang muncul dari pertanyaan yang sederhana namun tak begitu mudah untuk menemukan jawabannya. Apa yang akan anda lakukan di sisa hidup yang mungkin tak akan begitu lama lagi?

 Yup, akhirnya curhat ini mengenai seseorang yang selalu merasa cukup dengan apa yang sudah dan sedang diperbuat untuk menjadikan “akhiran” itu menjadi indah. Bagi si kawan yang selama ini berproses dengan FSTVLST, nama ben-benan nya, serta etos hidup yang dijalaninya memang sedikit banyak didedikasikan sebagai sumbangsih ke society. Namun pertanyaannya, apakah semua itu telah cukup khususnya bagi lingkungannya yang terdekat?

Dari keresahan-keresahan itu, lalu si kawan mulai melacak jejak hingga ia akhirnya berada di titik sekarang. Lalu muncullah sedikit petunjuk bahwa (dengan tidak sadar) ia sering alpa untuk sejenak memikirkan “tanah tumpah darah” tempat ia dilahirkan, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Menyimak curhat si kawan, saya dalam hati ikut mengiyakan. Tak pernah cukup intens memang saya rela mengorbankan waktu untuk mengajukan pertanyaan yang sama. Padahal saya tahu betul disana ada banyak persoalan yang bahkan berhubungan tentang “hidup mati” tanah kelahiranku itu.

Yang menarik dari keresahan si kawan ini karena ia sudah memiliki rencana untuk menjawab keresahan itu. Ia berencana untuk memulai sebuah sanggar, serupa mini cultural center yang memiliki tujuan sederhana yaitu mengembalikan Gunung Kidul ke hati generasi-generasinya.

Lebih jauh bahkan si kawan telah menyiapkan sebuah desain project untuk cita-citanya ini dengan tajuk PAST PRESENT FUTURE. Latar belakang project ini cukup sederhana namun sepertinya tak begitu banyak yang memperhatikan. Menurut si kawan, banyak orang Gunung Kidul “kehilangan” kebanggaan menjadi orang Gunung Kidul atau bahkan “belum pernah” punya kebanggaan itu, stereotipe “lemah” Gunung Kidul yang terus diamini, dan yang memprihatinkan bahwa kondisi “keterbelakangan” ini seringkali justru dianggap sebagai eksotisme oleh para imperialis. Demikian beberapa musabab yang menjadi latar belakang project ini. Selain itu, si kawan menegaskan bahwa selama ini tidak ada pergerakan yang mampu dan memang fokus untuk menggali potensi budaya, dan menggarisbawahinya dengan marker menyala supaya terlihat menarik.

Secara lebih terperinci si kawan menjelaskan kepadaku perihal project besar ini. Untuk PAST, berisi aktivitas penulisan sejarah budaya dan simpul-simpul besar kebudayaan dalam kurun kronologis, ditulis, menjadi arsip literatur. Supaya ia menjadi acuan, maka penulisan ini akan menggunakan bahasa sederhana sehingga orang-orang Gunung Kidul dapat lebih mengetahui kalau mereka juga punya sejarah. Kemudian apa yg ditemui disitu, menurut si kawan akan dipenetrasikan pelan-pelan pada generasi sekarang. Dan yang menarik bahwa gagasan-gagasan adiluhung ini akan di versuskan dengan popular culture dan apa-apa yg terjadi saat ini.

Untuk PRESENT, berisi project budaya dan seni. Mengapa seni dan budaya? Bagi si kawan, bukankah tanda sehatnya budaya  adalah dari keseniannya. Selanjutnya, rekaman atas seni yang merupakan manifestasi dari dua sub project ini, Past dan Present, harapannya akan menjadi serupa agitasi bagi bagi siapapun dan pada gilirannya mereka akan menciptakan percikan-percikan lain. Entah sedikit atau banyak, mereka yang menciptakan percik-percik ini, harapannya akan menjadi “sesuatu” bagi lingkungan sekitarnya. Perlahan, namun kontinyu sehingga dapat berkembang dan meluas. Dan harapan si kawan, semoga apa yang hendak dilakukan ini bisa memberikan nilai 'kebanggaan' menjadi orang Gunung Kidul yang entah kapan dulu, pernah ada, atau tidak.

Saat saya memohon izin untuk meng copy project ini untuk dijalankan di tempat lain, buru-buru si kawan “menolak.” “Wah, jangan ini harusnya dibangun bersama.” Jawab si kawan. Hmm, benar. Seharusnya ini adalah project bersama yang siapa pun dapat terlibat didalamnya tanpa harus dikerangkeng oleh batasan-batasan geografis yang semu. Ini bisa dimulai di Gunung Kidul dan bisa diperluas di “Gunung Kidul” lain yang begitu banyak di negeri ini.

.....................................

Saya dilahirkan di salah satu pulau di sebelah Tenggara Sulawesi. Meski saya tidak tumbuh besar di pulau ini karena kedua orang tuaku beraktivitas sebagai guru di Ibu Kota Provinsi dan saya hanya mengunjungi tanah kelahiranku di saat liburan saja, namun saya selalu bangga bercerita tentang keindahan pulau ini beserta keramahan dan kebersamaan orang-orang di pulau ini.

Namun,beberapa tahun terakhir kebanggaanku akan cerita-cerita indah ini lumayan terusik oleh aktivitas penumpukan laba oleh para penambang yang dengan buas menghajar setiap sisi pulau yang di dalam perutnya berisi kekayaan alam yang tak ternilai. Dalam sekejap, ceita-cerita indah masa kecilku lalu berubah serupa potongan-potongan kesuraman dan pesimisme dan sepertinya sebentar lagi mati. Degradasi alam terjadi dalam hitungan kerdipan mata, dan komunalisme lalu berganti individualisme dengan mata dan telinga yang tetap “terbuka”.

Lalu, beberapa dari yang muda dan masih berpikir waras mencoba berbuat sesuatu untuk menyelamatkan cerita-cerita indah itu sebelum ia tenggelam bersama berton-ton tanah berisi material bernilai yang dirampas secara legal dan dilayarkan menuju negeri entah. Hingga kini sudah banyak yang mereka lakukan namun karena kekuatan modal begitu menggurita dan punya kuasa bahkan atas otoritas yang disumpah untuk melayani para lemah, hingga semuanya tak begitu mudah untuk mencegah potensi kerusakan yang besar terjadi.

Saya sendiri hingga kini tak bisa berbuat banyak, sesekali memberi masukan kepada mereka yang muda dan mau berbuat, namun lebih sering hanya menyimak yang mereka kerjakan dari jauh. Kondisi begini bagiku sangat “memuakkan.” Saat seharusnya harus berbuat banyak namun tak begitu tahu harus berbuat apa. Dan bukankah diam hanya akan memperpanjang barisan perbudakan?

Itu mengapa curhat si kawan sore itu tentang cinta atas tanah tumpah darah begitu mengusikku hingga kini. Dan bagiku, seharusnya curhat itu mengusik kita semua. Ini bukan soal “nasionalisme sempit”, namun lebih jauh karena ini semua berkaitan dengan “KITA” dan ekspresi sosialitas yang seharusnya inheren dalam diri kita yang berani mengambil tanggungjawab menjadi manusia.

........................................

Setelah saling menyemangati dan sedikit komentar tentang tatto Fibonacci di tubuh si kawan,  sesi curhat sore itu kami akhiri dengan iringan doa semoga kami dapat segera bertemu dan bisa bertukar pikiran sambil menikmati secangkir teh jahe di Kota Imajinasi itu.

Akhirnya, mulailah meluangkan waktu untuk menyapa kampung halamanmu!

Belia Pagi
Kedai Buku Jenny, 31 Desember 2012