British Nite

Saya berangkat bersama beberapa teman yang kebetulan adalah jamaah Britpop fanatik untuk menghadiri sebuah malam bernuansa british di selatan Jogja. Yah, malam kemarin ada sebuah perayaan bertema BRITISH NITE at NGAYOGYAKARTA yang dihelat oleh Geronimo FM dan Lee Cooper di LAF Garden. Selain sepak bola dan Harry Potter, negeri asal Robin Hood itu juga dikenang sebagai tanah yang banyak menghasilkan musisi dengan musik-musik yang melegenda. The Beatles hingga The Smiths atau Rolling Stones sampai the Stones Roses, dan tentu saja generasi Britpop seperti Oasis, Blur, Pulp, Suede, Shed Seven hingga Bluetones. 

Saya memasuki LAF Garden dengan alunan ukulele dan piano penuh harmoni yang dimainkan oleh Answer Sheet. Setelah Answer Sheet, panggung kemudian diisi oleh Risky Summerbee & The Honeythief. Risky Summerbee & The Honeythief (RSTH) membawakan lagu-lagu seperti Fireflies, Slap N Kiss, Revolution, dna menutupnya dengan Place I Wanna Go. Lirik-lirik yang kuat yang diiringi oleh suara piano, hentakan drum dan tentu saja permainan gitar Erwin Zubiyan direspon dengan antusias oleh para pengunjung British Nite. Tapi yang paling menarik adalah lagu berjudul Revolution, lagu yang menceritakan kisah seorang pedagang asongan bernama Pak Slamet. Saya mendengarkan kembali lagu ini beberapa kali setelah sampai dikosan dan Menurutku, Melalui lagu ini RSTH sekali lagi menunjukkan seni memang bukanlah sekedar untuk seni itu sendiri tetapi punya tanggung jawab untuk memotret berbagai sudut hidup khalayak. Salute buat RSTH dan perjuangan Pak Slamet, Rest In Peace Uncle Slamet!  

British Nite masih berlanjut, kali ini giliran FSTVLST, saat kru secara telaten mempersiapkan panggung saya beranjak kebelakang untuk menerima telpon dari seorang kawan dan di jalan saya bertemu seorang FSTVLST, sambil tertawa kecil dia berkata “saksikan sejak menit awal.” Wah, sepertinya akan ada hal spesial atau baru dipanggung nanti. Dan ternyata benar, pertunjukan ini dimulai dengan lagu The Only Way dengan iringan harmonika oleh Farid dan permainan gitar akustik oleh Moved (yang biasanya bermain bass). Terdengar sangat ringan dan meski terasa baru, para Festivalist dengan cepat beradaptasi dan mulai ikut bernyanyi bersama. Dan terdengarlah diakhir lagu semua bernyanyi “Paralel Life I’ll See You Soon.” Perayaan kali ini memang dimulai dengan slow tapi setelahnya energy kembali tertumpah saat Maha Oke dan Menangisi Akhir Pekan menghentak dan direspon dengan loncatan, moshing serta tentu saja bernyanyi bersama. Selanjutnya adalah Mati Muda, dan seperti beberapa panggung Festivalist yang pernah kudatangi sebelumnya, saat lagu ini dibawakan maka vokalisnya adalah anda semua. Secara substansi dan harafiah, panggung malam itu memang tanpa barikade, tak ada batas, sehingga interaksi kian “intim” di perayaan kali itu. 

Setelah membawakan lagu sendiri pada 4 lagu pertama, vokalis FSTVLST kemudian mengganti kaosnya dengan kaos bergambar bendera Inggris lalu meng-cover dua lagu dari tanah Britania yang pertama adalah Rolling stone - Sympathy for the devil dan Melancholy Hill dari Gorillaz. Setelah membawakan lagu Rolling Stone, dari atas panggung Farid bertutur agar tidak mendengar lagu-lagu yang sekarang saja tetapi juga mengenal musisi sebelumnya yang menjadi akar dari musik-musik saat ini. Melancholy Hill pun akhirnya dibawakan, melodi pembuka yang sangat asyik mulai terdengar dan berlanjut dengan lantunan lirik seperti ini “well you can’t get what you want but you can get me, so let’s set up and see, cause you are my medicine when you’re close to me” , hmm.. om Damon Albarn ini putis betul..hehehe.. 

FSTVLST membawakan dua lagu baru yakni Bulan, Setan atau Malaikat dan Tanah Yang Indah bagi Para Terabaikan, Rusak dan Ditinggalkan. Dua lagu baru ini begitu cepat akrab ditelinga para Festivalist, meski baru dibawakan dibeberapa panggung tapi saat dibawakan begitu banyak yang telah bersama-sama menyanyikan bait demi bait liriknya. Semua tampak menikmatinya, di tepi kiri panggung tampak gadis yang bergerak mengikuti melodi sambil ikut bernyanyi, sepertinya dia tak hirau apapun saat itu, dia benar-benar merayakan sesuatu malam itu, dan apapun itu, Rayakanlah! Lalu Hari Terakhir Peradaban yang seperti ledakan itu menjadi penutup perayaan tersebut. 

Sawing Ugi’

1 comment:

  1. mbok ya diupload mas, aku festivalist cabang kalimantan meh ndelok tenan ki. sumpah

    ReplyDelete