Inilah Tanah Indah Untuk Para Terabaikan, Rusak dan Ditinggalkan


13  yang kutunggu akhirnya menyapa manis, tak ada kesan gelap sama sekali. Meski ia jatuh tepat di hari jum’at dan kemudian diidentikkan oleh beberapa orang dengan suramnya Friday The 13th. Bayangan akan perayaan kebahagiaan dan kesetaraan yang selalu sederhana membuatku tak sabar menjumpai hari ini. Dan pasti ku tak sendiri menunggu hari ini! Hari itu ku diaduk rasa!

Setelah menunggu agak lama, duo host super kocak malam itu memanggil mereka, FSTVLST. Ratusan orang yang semula menunggu agak jauh sambil duduk di kiri kanan dan depan stage mulai merapat. Begitu cepat, berusaha mendapatkan posisi yang paling nyaman untuk perayaan yang akhirnya datang lebih cepat malam itu. Serupa deretan manusia di Ibu Kota yang hendak memperebutkan beberapa sentimeter ruang di dalam busway untuk hanya sekedar berdiri hingga tujuan. Tak terkecuali saya dan teman karibku.

Tapi tak seperti malam biasanya, saya dan teman karibku memilih berdiri agak dibelakang dan tak begitu berniat merapat dengan yang lain untuk perayaan yang selalu hingar namun setara itu. Kali ini kami ngin menikmati setiap detiknya dengan lebih khidmat. Ah, entah mengapa malam itu tiba-tiba kumerasakan suasana yang lain. Ada raup duka menyelip sempit entah dari mana, meski medley Manifesto Postmodernisme, Menangisi Akhir Pekan, Maha Oke, dan Look With Whom I’m Talking To menghantam telak dan disambut gempita oleh para Festivalist.

Kuberusaha menepis rasa yang terus berkelebat ditengah indahnya perayaan malam itu. Kupikir ini efek biasa dari rasa rindu yang akhirnya terjawab. Kuikut bernyanyi dan sesekali berlompatan ria. Saya dan para Festivalist begitu bergembira. Tapi rasa itu tak betul-betul hilang. Hujan Mata Pisau mengalun dan perasaan itu kembali menyerang dan saat Mati Muda menjadi serupa taburan doa untuk Cokro yang lebih “memilih nasib terbaik,” saya tak bisa lagi ikut bernyanyi. Tiba-tiba sesuatu menyerangku tiba-tiba. Cuih, saya menangis! Ah, tangisan yang indah. Kutebarkan pandangan keseluruh sudut dan kuyakin Cokro sedang bersama dan ikut merayakan kebahagiaan yang selalu seperti sedia kala. Setara dan sederhana. Sembari doa kuhaturkan khusus untuknya, tetaplah tersenyum teman!

Malam itu, betul kudiaduk rasa. Bulan, Setan atau Malaikat, Tanah Indah untuk Para Terabaikan, Rusak dan Tinggalkan lalu menyempurnakannya. Untuk yang terakhir ini, kumenangkap kesedihan tapi ku tak berani menyimpulkan. Semoga tidak. Tapi lantunanya begitu indah, pilihan kata  yang mewakili makna yang dalam kuyakin membuat siapa pun di perayaan malam itu tersentuh. Dan tak sabar menunggu rilisan utuhnya. Dan apalagi, lagu itu berkali-kali terulang malam itu. Mencoba menebak, mungkin dari sini duka itu menelusup malu namun menyayat. Ah, semoga tebakanku salah, dugaku malam itu! 


Dan hari terakhir peradaban menyentak, menyerang siapa saja yang masih memuja ambisi dan alpa akan syukur. Dan semuanya diakhiri dengan peluh dan senyum. Seperti biasa. Dan tentu kami belajar dan mengingatkan. Belajar dan mengingatkan bahwa kegembiraan sedianya tetap menjadi kegembiraan tanpa basa basi. Jangan membiarkan kegembiraan dan perayaaannya terbatasi oleh apapun yang mewujud seperti barikade. Barikade yang seringkali berbentuk puja puji berlebihan (khususnya kepada ben-benan FSTVLST itu) dan lupa bahwa suguhan lagu tidak akan berarti apa-apa meski ia telah tiba di nada akhir jika tak ada belajar disana. Barikade itu juga kadang memiliki segi, termasuk bendera yang diusung tinggi-tinggi. Tak salah. Ekspresi memang kadang melampaui apa yang kita pikirkan. Dan cinta sering seperti itu. Tapi apakah kita rela membatasi dan mengurangi kebahagiaan yang akan kita raih hanya karena merasa ada yang menjadi idola dan selebihnya menjadi pengidola. Ada yang menjadi seolah raja dan selebihnya adalah penghamba. Dimana kebahagiaan berada dengan hubungan seperti itu. Relakah kita mendapati angkringan Pak Tegho yang tak ramah lagi, karena Sang Idola lebih memilih “duduk” diatas kursi dan yang lain berderet menunggu pose bersama dan tanda tangan di punggung? Ah, tak berani membayangkannya.

Dan bukankah sejak lama kita berikrar untuk merayakan kebahagiaan, kesederhanaan, kesetaraan itu semua di panggung, rendah, luas, terang tanpa barikade? Ya, Tanpa Barikade!. Meski ku diaduk rasa, tapi saya berbahagia. Kami semua bahagia. Selamat Datang di Tanah Indah Untuk Para Terabaikan, Rusak dan Tinggalkan!


Belia Pagi
Jogja, 15 April 2012

No comments:

Post a Comment