Pesan Terang Nan Megah!


Saat pertama kali mendengarnya kuyakin ia akan terang dan megah…

Bagiku, setiap panggung dan perayaan akhir pekan selalu istimewa. Tak peduli ia digelar di panggung yang besar atau kecil, berbalur lampu yang terang atau temaram, dihiasi sound yang maha megah atau hanya ala kadarnya. Semuanya selalu istimewa dan membahagiakan. Setiap panggung dan perayaan akhir pekan selalu memberikan sensasi-sensasi yang berbeda. Dan bagi mereka yang peka, semua perayaan itu selalu memberi “tanda-tanda” nya sendiri untuk kita jadikan sebagai ruang dan peci untuk belajar. Belajar tentang hidup tentunya. Tak terkecuali perayaan malam yang agak “nakal” kemarin.

………………

Event yang digelar oleh sebuah merk kendaraan beroda dua ternama malam kemarin tentu tak bisa dibilang seadanya. Panggung yang megah, dua screen dengan ukuran yang cukup besar di kiri kanan panggung serta hidangan sound yang spektakuler kukira cukup untuk dijadikan jaminan bahwa gelaran kali ini akan memuaskan paling tidak secara teknis.

Satu sajian yang agak mengusik berakhir. Berikutnya adalah giliran ben-benan yang sepertinya masih akan terus bercerita selama Tuhan masih berkehendak, FSTVLST. Seperti biasa raungan melodi Menangisi Akhir Pekan membuka manis. Dan saat Manifesto Postmodernism menghajar telak bersama semburan cairan agak pekat itu, tiba-tiba “tanda-tanda” yang selalu datang di hampir semua perayaan akhir pekan menyerangku dari berbagai arah. Mataku tertuju ke set sound besar yang tergantung megah di sebelah kiri panggung. Dari situ produksi bebunyian dan suara dari panggung begitu terang dan megah. Saya tersenyum. Kuyakin perayaan kali ini kembali tak akan biasa-biasa saja.

Perayaan akhir pekan malam kemarin memang begitu hingar dan berwarna. Ada yang datang dengan dandanan rock star meniru sang idola, banyak pula yang berseragam dengan identitas yang serupa, beberapa juga terlihat dengan style khas muda belia yang sedang memadu kasih setelah lama tak bersua karena harus berjuang melewati masa-masa ujian akhir sekolah, dan tentu tak sedikit yang datang dengan tampilan biasa-biasa saja, tak terkecuali saya, yang hanya datang tidak untuk mengagumi siapa-siapa tapi ingin menikmati secuil kebahagiaan. Begitu berwarna, dan bukankah hidup sejatinya memang seperti itu!

Karena panggung begitu berwarna maka sebenarnya tak ada yang perlu disalahkan dengan gesekan yang lalu menambah keriuhan perayaan akhir pekan malam kemarin. Seperti hidup yang selalu menghibur kita dengan sejuta masalah, tak ada yang salah dengan itu semua. Di tengah riuh perayaan, kudengar ajakan dari atas panggung untuk merayakan dan mensyukuri masalah yang sedang dan selalu kita hadapi. Masalah-masalah itu seharusnya membuat kita belajar. Belajar untuk mengenali masalah tersebut dengan teliti dan selanjutnya berani untuk mengambil sikap dengan tidak gegabah. Termasuk untuk mengatakan protes!

Perayaan akhir pekan kemarin memang adalah selebrasi penuh sumpah serapah atas kebahagiaan yang sedang coba kita cederai. Tak jelas apa alasannya. Padahal saya yakin benar kalau hampir semua yang hadir malam itu ingin dan berniat merayakan kebahagiaan, bahkan sejak kedua orang tua memberikan izin dan lalu berlembar rupiah menyertai. Semuanya atas nama kebahagiaan.
Kebahagiaan yang sedikit tercederai lalu membuat pesan-pesan tentang kebahagiaan yang sederhana seolah berkelebatan begitu jelas di depan mata. Pesan tentang kesetaraan yang hampir tiap detik mengalir mulus dari mulut dan dieksekusi oleh jemari di depan layar berukuran kotak begitu jelas menyapa. Siapa pun yang sering berteriak tentang semua pesan-pesan itu seolah sedang memasuki ruang ujian yang sebenarnya malam kemarin. Semua pesan-pesan suci itu mendapatkan ruang uji dan praktiknya di tengah riuh perayaan akhir pekan malam kemarin.

Apakah benar kita masih mengulurkan tangan untuk teman yang terjatuh di sisi meski ia berbeda identitas?
Masihkah kita hirau dan peduli dengan model perayaan tanpa rasa dan kontemplasi hingga akhirnya kebahagiaan seolah menjadi begitu rumit dan bahkan menakutkan?

Pertanyaan-pertanyaan ini sebaiknya kita jawab sebelum berniat untuk kembali melanjutkan sesumbar kita tentang kebahagiaan yang sederhana, serta kesetaraan. Tak perlu menjawabnya sekarang tapi berjanjilah bahwa ia akan seperti utang yang harus terbayar.

Semua pesan malam itu begitu terang dan megah. Tak pernah kulihat sejelas malam kemarin. Dari atas panggung kulihat dan kudengar khotbah tentang kebahagiaan yang sederhana dan kesetaraan itu berkali-kali terulang dan terlontar deras sederas air yang mengguyur para pencari kebahagiaan malam kemarin. Kuyakin mereka merasakan sama.

Perayaan berakhir tetap dengan senyum meski kecewa sedikit menelisik. Di sisi sebelah kiri kulihat kedua pasangan yang sedari tadi tersenyum gembira menyanyikan lagu-lagu kebahagiaan dan kesetaraan itu meski sesekali harus menghindar dari kerumunan yang berlari entah mencari apa. Ah, mesranya. Kubayangkan si lelaki mendekat ke telinga sang kekasih dan berbisik “Selamat Hari Kartini.”

Belia Pagi

Foto Rekaman dipinjam dari facebook: Rivan Thitot Ravianto & Rizqi Nuswaryanto, terimakasih

1 comment:

  1. sangat di sayangkan kemarin tidak ikut merayakan akhir pekan bersama kalian :(

    ReplyDelete