FSTVLST oleh Chandra Permana

Tidak lama tidak sebentar, 8 tahunan itu perempuan ini kerap menyapa lewat bangunan kotak dengan bebunyian garage rock, dance punk, new york sound atau apalah kalian menyebutnya, yang tidak akan membuatmu berhenti memaksamu bernyanyi atau sekedar mengetukan kakimu ke lantai dan menganggukan kepalamu naik turun.

Untuk usia yang begitu belia untuk cerita yang begitu panjang menguaknya. Jenny nama dari perempuan ini. Binal, liar seperti ketika sedang melumat panggung. Bak penari erotis yang mencuri mataku untuk menatap lebih dekat, sesekali liurku ingin keluar lalu ku telan lagi dengan bola mata yang hampir keluar. MANIFESTO adalah tinta emas yang pernah perempuan ini torehkan, debut album perdana racikan rock ala
Jenny sendiri, bukan si ini atau si itu. Komposisi brilian sebut saja dalam lagu 120 atau Look With Whom I'm Talking To dan banyak lagi yang mereka ingin lontarkan di album ini. Tak ayal Jenny kerap menjadi sosok panutan oleh beberapa band yang satu portal dengannya di ranah jogjakarta, tidak hanya dari segi bagamaina mereka bermusik tapi juga bagaimana dia bersosialisasi dengan sesama dan penikmatnya. Dan Matimuda salah satu dari sekian yang kerap mereka bawakan di panggung-panggung, seperti memiliki daya magis untuk merubah sebuah pertunjukan menjadi karnaval pemakaman.

Setelah mundurnya dua dari empat punggawa lawas saat itu yang tersisa adalah Farid Stevy Asta (juru vokal) penulis lagu, elemen energik di atas panggung, yang kadang tidak dapat di telan mentah-mentah setiap kata dan kalimatnya. Seperti meminum air kelapa, kamu harus mengupas serabutnya, memecah tempurung kerasnya, baru dapat kamu menikamati isinya. Dan Roby Setiawan (pemetik senar) seseorang yang sangat dekat dengan kail, batu kali dan riuh pantai. Sempat mencuri perhatianku di suatu gigs ketika
Jenny meng-cover sebuah lagu maestro blues Jimi Hendrix-Little Wing. Merekalah yang berjuang cukup militan di garis depan!

Jenny yang konon kini sudah mereka tempatkan di ruang yang indah, di atas, di atasnya tinggi dan masih atas lagi, hampir suci. Dan waktu lah yang mengantar Jenny ke sana, jika waktu itu adalah gambaran seseorang maka dia adalah manusia paling keras kepala, egois dan tidak mau tau pun mengerti. Kadang sesuatu datang tanpa bisa kita merubahnya. Siapa yang ingin merubah? Mereka? Tidak! Menurutku orang-orang ini yang bernaung dan menganggap sebagai band sepele hanya menikmati usianya yang kian aus ke musim yang entah. Sampai kepada melekatnya nama baru dan dua wajah baru yang sebenarnya sudah tidak samar lagi, karena wajah-wajah itu dulu sering tergambar nampak di panggung-panggung Jenny. Adalah Human Mufid Arifin seorang psychedelic, nyanyikan apa saja tentang The Doors dia punya banyak kunci untuk mengantarmu lebih jauh. Di mana kini dia mengemban jabatan baru sebagai bassist. Danish Wisnu Nugraha (penggebuk jitu) orang yang paling sibuk di atas panggung, tergabung juga di berbagai band-band indie jogjakarta.

Dan sebuah nama yang saat itu terdengar aneh pertama kali di indera dengarku FSTVLST (festivalist). Saat itu aku beranggap tanpa tedeng aling-aling ini seperti sebuah perjuadian yang mempertaruhkan seurat nadi, kalaupun hidup adalah hidup yang hampir mati. Saat itu pula aku ingin bertanya tentang pergantian nama itu,namun aku sendiri juga yang menggagalkan pertanyaan itu. Tapi tidak butuh waktu lama mereka mematahkan anggapan ku, bahkan menyakinkan ku pada setiap pementasan akan eksistensinya. Membuatku untuk kagum dari panggung ke panggung dengan energi baru yang meledak-ledak.


Tentang kesetaraan serta ALMOST ROCK BARELY ART yang mereka usung di panggung-panggung, semakin berduyun-duyun saja orang-orang datang dengan latar dan gaya berbeda-beda mendekat ke podium mereka. Gigs yang saya datangi belum lama ini,masih belum habis om om ini, liar dengan penyulut para penonton yang adalah temana-teman FSTVLST sendiri. Dari orang bertato menenteng bir sampai gadis berhijab menjadi makmum di depan panggung tersebut. Bahkan sesuai acara itu yang bertajuk british nite FSTVLST sengaja meng-cover legenda band kiri Inggris Rolling Stones - Simpathy For The Devil. Wuiihhhh!


Di wartakan juga FSTVLST sedang meracik amunisi-amunisi baru yang siap di tembakkan dan mengejutkanmu. Album? yah pertanyaan-pertanyaan itulah yang turut membesarkan mereka dan berproses. Dua lagu anyar yang akhir-akhir ini selalu terselip di playlist pertunjukan mereka, lagi-lagi dan lagi membuktikan konsistensi mereka dalam berkarya. Salah satunya Bulan Setan Atau Malaikat adalah rekam suara FSTVLST tentang cerita lampau empat karib dan perempuanya (
Jenny), semacam penghargaan yang mereka dedikasikan untuk penunggang lama dan Jenny sendiri. Salut!!

FSTVLST nama yang dulu pertama terdengar aneh bagi ku kini seperti janin terbungkus rahim yang selalu dinantikan kelahirannya. Mampirlah ke panggungnya, jangan terlalu percaya atas apa yang saya ungkap. Saksikan sendiri keliaran mereka dan bala tentaranya yang sebenarnya sangatlah santun ketika kamu lebih dekat.

Chandra Permana 
(klik nama ini untuk menuju akun facebooknya)  
 
.......................................

Kesetaraan yang selalu kami bawakan dan bagikan kepada teman-teman lewat FSTVLST, mungkin bagi kebanyakan akan terbaca sebagai retorika belaka bumbu identitas band, atau propaganda semata kompor branding band. Tapi tidak, sejatinya tidak, sesungguhnya itu terhembus di nafas kami setiap hari, merembes di pori-pori kulit kami, berdetak dan mengalir sebagai energi yang membuat band ini tetap hidup dan selamat. tertulis FSTVLST terbaca fes-ti-va-list adalah sebutan untuk band, tertulis  Festivalist yang juga terbaca fes-ti-va-list adalah panggilan mesra kami untuk teman-teman yang entah seperti apa bentuknya, tapi punya ketertautan jiwa dengan band ini.

FSTVLST dan Festivalist, sama, serupa, tidak berjeda, setara. Blog ini juga panggung rendah luas terang tanpa barikade, dimana FSTVLST dan Festivalist akan bercerita dan berbagi bahagia. Ya, setara, sampai seluas-luasnya. Di postingan terdahulu, tersebutlah Belia Pagi dan Sawing Ugi' yang bukan FSTVLST, melainkan Festivalist yang sudah berbagi cerita. Sedangkan yang terpapar di atas adalah tulisan dari teman bernama Chandra Permana. Saya memanggilnya Maschan, tabiatnya yang diam tidak bertutur banyak dan lebih suka menenggelamkan dirinya ke asap rokok dan duduk tenangnya, berbanding terbalik dengan lihai kakinya memainkan bola futsal dan kemampuan rekam tulisnya. terimakasih Maschan. Dan kami juga mengundang teman-teman semua untuk selalu berbagi bahagia di panggung, di kursi panjang angkringan, di jalan, di mana saja, dan juga di sini, dan juga di blog ini..

Gulita Benderang

1 comment: