Pak Tegho, Kita dan Ruang Alternatif

Angkringan Pak Tegho, begitu nama tempat ini. Angkringan ini terletak tepat didepan Bank BCA di bilangan Jl. Mangkubumi Jogjakarta. Tak ada yang begitu berbeda dari angkringan ini dengan angkringan lain yang bertebaran seantero Jogja, kecuali bahwa tempat ini dijadikan serupa “rumah” bagi FSTVLST dan Festivalist. Dua nama terakhir ini merujuk pada sebuah band asli Jogja dan teman-teman yang memiliki keterkaitan erat dengan band ini.

Perkenalanku dengan Angkringan Pak Tegho juga berhubungan dengan band ini. Sekitar pertengahan tahun lalu, setelah sebuah gigs di Taman Budaya Jogja, oleh Farid yang juga adalah vokalis FSTVLST (dulu masih bernama Jenny) ku diajak ke tempat ini. Dari dia juga pertama kali kutau kalau semua panggung FSTVLST di Jogja pasti akan berakhir di tempat ini. Dan kalau ingin bersinggungan langsung dengan mereka maka tempat ini menjadi salah satu referensi utama selain panggung-panggung mereka yang seringkali juga merupakan perayaan akhir pekan bagi siapa saja

Saya sendiri baru beberapa kali ke tempat ini tapi sejak pertama kali saya sudah merasakan sensasi berbeda berada di tempat ini. Tempat ini bagiku seperti tafsir nyata atas bait panggung rendah luas terang tanpa barikade yang tak bosan dikhotbahkan di panggung-panggung FSTVLST. Di angkringan sederhana ini, tak ada yang bertingkah serupa idola lalu yang lainnya memilih bertingkah menjadi pengagum irasional yang rela mati demi sang idola. Tak ada kesenjangan atau jarak yang sengaja direkayasa untuk membedakan antara si pesohor dengan para pengagum. Sebaliknya yang kudapati adalah kehangatan dan kekerabatan khas rumah dan keluarga. Di tempat ini kutemui para Festivalist yang memetik gitar dan satu dua teman FSTVLST bernyanyi dengan rasa yang fasih, diantara itu berkali-kali guyonan-guyonan berselera tinggi terlontar bebas tanpa pretensi apa pun selain kebahagiaan yang terus direnda. Karena setiap gerak dan laku adalah niat untuk menjamah kebahagiaan dan kesetaraan yang sejati, maka tempat ini adalah ruang belajar yang tentu tak menggurui. Maka tak heran kalau tafsir atas 120, Menangisi Akhir Pekan, Manifesto Postmodernism dan lainnya kudapati polos di tempat ini. Dan yang paling penting bagiku, di tempat ini tembok besar bernama superioritas klise serta keangkuhan kasta berbentuk apa saja pelan-pelan terus dihancurkan hingga berkeping-keping. Meski tempat ini bukan surga yang serba sempurna tapi kuyakin ada kabar tentang surga tersebar disini. Semoga!

********
Hampir tiap hari, saya dan mungkin juga anda selalu disuguhi dengan tontonan, kabar tentang bait-bait superioritas yang menjelma dalam banyak bentuk di banyak tempat pula. Superioritas yang lalu menegasikan ruang untuk berbagi, belajar dan saling mendengar. Dan menyedihkannya lagi karena ia dibalut dengan berbagai retorika etis dan nilai yang sebenarnya semu. Disana ada yang merasa terpilih lalu merasa berhak menginjak leher siapa pun dengan alasan kebaikan bersama, disana ada orang tua yang merasa paling berhak menentukan a, i, u, e, o nasib anaknya padahal hampir seluruh harinya berkutat dengan obsesi-obsesi khas dunia, disana ada guru yang membenarkan apa saja agar si murid “berprestasi” meski harus mencederai nilai suci ilmu pengetahuan, disana ada artis yang tak begitu serius berkarya tapi terus berharap sokongan dari para pengagum demi raup rupiah yang menggunung.  

Sekali lagi, siapa pun yang menangis, tercekik dan hampir mati karena kekisruhan-kekisruhan itu semua seringkali tak pernah mendapat tempat untuk berkicau meski hanya sehuruf. Saya, anda dan kita semua mungkin menjadi korban senda gurau yang tak lucu ini semua atau mungkin saja tanpa sadar saya, anda dan kita semua justru menjadi aktor antagonis yang begitu piawai di tengah kekisruhan ini. Cobalah bercermin!
Ditengah itu semua, kuyakin kita rindu dengan ruang yang memungkinkan siapa pun untuk berbagi, saling mendengar dan belajar tanpa mesti terbatasi dengan superioritas-superioritas semu yang sering bermetamorfosa menjadi banyak laku dan posisi. Kita rindu dengan ruang yang bisa menyuguhkan kebahagiaan dan kesetaraan menjadi ramuan yang indah dan memungkinkan siapa pun saling menghargai atas nama kehidupan.

Saatnya menjadi alternatif di tengah kekisruhan ini semua. Mulailah dengan menciptakan ruang-ruang itu, mungkin saja ia bernama Angkringan Pak Tegho yang lain.

Mari Belajar !

Belia Pagi

No comments:

Post a Comment