Mulailah Bercerita…

Seingatku setelah menulis skripsi dan membuatku akhirnya menyelesaikan strata satu, maka tulisan panjang berhalaman-halaman yang kubuat pertama kali adalah tulisan tentang perjumpaanku pertama kali, yang kuyakini sebagai takdir keren yang kupenuhi pra-syaratnya sehingga menjadi nyata, dengan Jenny. Tulisan yang berjudul tanggal pertama kali kubertemu ben yang kini bertransformasi menjadi FSTVLST itu harus kuakui menjadi salah satu momentum penting yang membuatku gemar menulis lagi. Hampir semua perjumpaanku dan semua peristiwa yang berhubungan atau sengaja kuhubung-hubungkan dengan ben ini biasanya akan jadi tulisan dan selanjutnya kuposting ke blog keluarga kecilku. Harapannya, selain agar membuat yang membaca blog penasaran dan mau berusaha mencari info dan mendengar lagu-lagu keren mereka yang tak mungkin dijumpai di acara musik pagi, menurutku selalu banyak cerita berisi pelajaran-pelajaran sederhana yang sayang kalau tak dibagi.
Sejak gemar ngeblog dua tahun belakangan ini, harus kusyukuri kalau tiba-tiba menjadi begitu mudah menemukan ide untuk menulis. Apa yang saya liat, rasakan dan alami dalam sekejap menjadi tema-tema menarik untuk ditulis meski tak semuanya lalu menjadi tulisan karena rasa malas yang sesekali menyerang. Tapi ide-ide yang tak sempat tertulis itu biasanya tak hilang, tinggal menunggu trigger maka mereka akan nampak jelas di hadapanku. Dan menulis tiba-tiba jadi sesuatu yang menarik.

Ah, saya selalu begini, bertele-tele!

Lanjut…apa yang membuatmu selalu tak sabar menanti panggung FSTVLST dan membuatmu memenuhi dinding atau lini masa akun media sosial ben itu dengan pertanyaan kapan mereka akan manggung? Saya punya jawaban sendiri. Selain tak sabar menemui sensasi berbeda dari tiap panggung beserta hingar bingarnya, saya selalu yakin mendapatkan sesuatu yang akan kujadikan tema untuk ditulis. Ini mungkin memang hanya soal bagaimana cara menikmati tiap suguhan yang hadir di depan mata, tapi setiap “sesuatu” itu kulihat, kudengar atau kurasakan bahkan di saat suasana begitu riuh tiba-tiba kuyakin inilah pelajaran penting panggung kali itu. Dan hal itu berulang kali terjadi. Sekali lagi, ini mungkin hanya urusan metode masing-masing kita untuk “menikmati” panggung, atau mungkin hanya karena dimotivasi untuk sering-sering memenuhi blogroll ku, tapi apa pun penyebabnya semuanya harus kusyukuri. Karena serius saya banyak belajar dan berimajinasi dari momentum-momentum kecil dan sederhana yang nampak di hampir semua panggung yang kudatangi.

Cerita ini misalnya, masih ingat saat FSTVLST (saat itu masih Jenny) jadi ben pembukanya ERK di JEC kalau tak salah akhir tahun lalu? Saat itu, saya berdiri hampir paling depan dan begitu dekat dengan pagar pembatas dengan panggung. Di depan saya, ada tiga orang perempuan yang kuyakini masih duduk di bangku SMP. Sejak lagu pertama hingga akhir, ketiga perempuan ini begitu asik menikmati tiap suguhan. Sambil berlompatan dan bersama menyanyikan tiap lagu dari set list malam itu, dan tak peduli kalau dibelakang mereka saya sibuk meladeni kaki-kaki mereka yang ber moshing ria yang hendak mendarat mulus dan bukan tak mungkin akan mengenterupsi edikit kebahagiaan mereka bertiga malam itu. Tiba-tiba saya jadi pagar hidup bagi mereka. Tiba-tiba terbayang beberapa tahun kedepan, saya diajak oleh anak perempuanku menikmati konser dan mau tidak mau harus melindunginya. Sambil meladeni kaki-kaki itu, saya terus tersenyum dengan imajinasiku yang melompat begitu jauh. hahahaha….

Masih di malam itu, saya menyaksikan sendiri peristiwa yang lalu membuatku percaya kalau para Festivalist adalah teman bagi semua. Jadi seperti biasa hampir semua panggung yang saya datangi pasti bersama sahabat yang agak betubuh besar dan berkacamata. Saat sesi moshing mulai meramaikan panggung, maka ia begitu mudah terpancing suasana dan meladeni siapa pun yang berada tepat di atas kepalanya. Nah, malam itu saat sedang asik-asiknya tiba-tiba kaca matanya jatuh dan sontak ia berteriak dan mencari dimana jatuhnya kaca mata itu. Dengan keramaian yang begitu padat, sepertinya susah membayangkan kaca mata itu akan ditemukan dalam keadaan utuh. Tapi ceritanya lain. Sesaat setelah ia berteriak kalau kaca matanya jatuh, sesaat itu pula para Festivalist mengosongkan area dimana kira-kira kaca mata itu jatuh dan membentuk lingkaran. Dan tak lama seorang festivalist menemukan kaca mata itu dalam keadaan utuh, sehat wal a’fiat. Pengalaman yang mungkin tak akan kudapatkan di panggung-panggung lain. Dalam semalam itu, begitu banyak cerita dan pesan kudapatkan. Senangnya!

Kuyakin setiap dari kita punya cerita masing-masing tentang semua panggung-panggung itu dan apa pun tentang ben ini yang tentu menarik untuk dibagi, paling tidak bisa dijadikan referensi tambahan untuk memperkaya metode menikmati panggung sambil belajar dan berimajinasi…hehehehe…dan kupikir blogroll ini akan sangat senang menjadi tempat untuk cerita-cerita yang pasti menarik dari kita semua.

Maka mulailah bercerita dan memenuhi blogroll ini!

Belia Pagi   

2 comments:

  1. kalo mau kirim cetita gmn caranya?

    ReplyDelete
  2. maaf baru balas...silahkan kirim ke fstvlstblog@gmail.com :)

    ReplyDelete