Festivalist #1 dan Kehangatan Keluarga

Mungkin agak telat tapi cerita hari itu harus dipaparkan…

Masih tentang keluarga sederhana ini. 

Jam di ponsel bututku sudah menunjukkan hampir pukul 4 sore, itu berarti saya sudah telat sekitar satu jam. Sore itu saya bersama teman sudah meniatkan dari jauh-jauh hari untuk menghadiri sebuah acara buka bersama. Tidak seperti acara buka puasa bersama sebelum-sebelumnya yang memang kami niatkan untuk terlambat, tapi kali ini kami berdua benar-benar berusaha agar tak terlambat. Meski akhirnya harus terlambat juga karena kami harus mengantarkan seorang teman dari Sulawesi ke kosan barunya.

Sekitar pukul 4 sore lebih sedikit, kami berdua akhirnya sudah berada di tempat acara buka puasa bersama diadakan. Nampak dari kejauhan barisan motor telah diparkir rapi oleh para panitia acara buka puasa bersama di depan pintu masuk acara. Setelah memarkir motor di depan sebuah gerai waralaba yang berada tepat di samping tempat acara, kami berdua langsung menuju pintu masuk dan kami berdua disambut hangat oleh panitia acara dengan jabatan tangan akrab. Di depan pintu masuk, terdapat sebuah spanduk berdiri yang berisi tajuk acara ini serta sebuah kotak amal. Tak lama berselang, kami berdua segera bergabung dengan yang lainnya menunggu waktu berbuka sambil menikmati suguhan musik menghentak dari beberapa band yang menjadi pengisi di acara buka puasa ini.

Acara buka puasa ini memang tak biasa dan setauku memang sengaja dikemas tak biasa. Acara yang bertajuk Festivalist #1, Almost Bukber Barely Baksos ini berisi beberapa item yakni buka puasa bersama, bakti sosial dan tentunya ben-benan. Seperti yang tertera di tajuk acara, acara ini diinisiasi oleh teman-teman Festivalist (mereka yang memiliki keterkaitan erat dengan sebuah ben-benan yang bernama FSTVLST). Dan ini merupakan acara pertama yang mereka gelar setelah Jenny mentransformasi diri menjadi FSTVLST di penghujung tahun 2011. Acara ini digelar tepat di halaman depan distro PIMP, seberang GOR UNY pada 4 Agustus 2012.

Sebelum beduk maghrib terdengar sebagai penanda waktu berbuka puasa, semua yang hadir di acara tersebut disuguhi musik berselera oleh beberapa band penampil seperti the JK, The Kage, Balaclava, Rizhuvan Airsick, Scootled (Solo), Chemo (Semarang). Semakin dekat menuju magrib, teman-teman yang tadinya hanya duduk manis di teras depan distro kemudian meringsek ke depan panggung yang sangat sederhana itu. Di sebelah kiri panggung juga nampak kesibukan ekonomi, beberapa teman-teman Festivalist menyisihkan rupiahnya untuk membeli merchandise FSTVLST yang memang sengaja dijajakan di acara tersebut. Dan yang tak kalah menarik perhatianku, tentu selain suguhan buka puasa yang terhidang di atas meja tepat didepan tempatku berdiri, adalah kotak sumbangan yang silih berganti diedarkan oleh beberapa teman-teman Festivalist kepada semua yang hadir dan bergembira di acara tersebut. Dan dana dari kotak sumbangan ini lah yang akan disumbangkan kepada yang berhak sebagai bentuk bakti sosial teman-teman yang hadir di acara ini.

Semakin senja, semakin banyak yang datang memenuhi pelataran distro PIMP. Dan tak lama berselang akhirnya beduk magrib bertalu dan kemudian dilanjutkan dengan azan fasih dari si host kocak acara ini. suguhan ta’jilan di hadapanku sontak menjadi fokus perhatian. Menu sederhana yang disuguhkan dalam sekejap tak berbekas dan selanjutnya yang nampak hanya keakraban di semua sudut. Iya, benar-benar akrab. Sederhana dan setara mungkin cukup untuk mewakili ketidakmampuanku menggambarkan “kedekatan” yang terjalin di senja yang semakin menggelap hari itu.

Setelah magrib, acara ben-benan kembali dilanjutkan. Soloensis (Solo) membuka panggung dengan suguhan berkelas dan berselera tinggi. Semuanya kembali merapat ke bibir panggung dan semakin mendekat saat FSTVLST menyajikan Suck It & See milik Arctic Monkey secara akustik.  Dan selanjutnya, seperti sedia kala, setiap panggung lalu menjadi begitu rendah, luas, terang dan tanpa barikade. Benar-benar akrab, seakrab sebuah keluarga kecil yang terus belajar untuk tetap menjadi keluarga yang bisa menerjemahkan bahagia dengan sederhana-sederhana saja dan terus mengingatkan bahwa setara dan kesetaraan adalah pintu menuju bijaksana dan arif. Dan malam itu, semuanya benar-benar terasa. Yup, acara ini seperti pepatah ‘sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui,’ senja hingga malam itu ada reunian dengan kawan-kawan lama, sambung rasa dan kumpul-kumpul bersama. Hingga bait dan nada terakhir terhatur, hanya sungging senyum bahagia yang terlihat. Dan setelahnya satu per satu beranjak pulang. Dan kuyakin siapa pun yang datang malam merasakan energi positif yang siap disebarkan ke siapa saja dan dimana saja. Semoga!

Dari acara ini, terkumpul sumbangan uang sejumlah 992.300 rupiah, baju bekas layak pakai dan sembako, yang akan disampaikan ke Rumah Singgah di Umbulharjo Yogyakarta.

Ah iya, mungkin tidak banyak yang memperhatikan, tapi ini potongan cerita favorit saya malam itu. Sesaat setelah berbuka puasa, saya beranjak ke mushalla yang terletak di sebelah kanan tak begitu jauh dari panggung. Setelah berwudhu dan menuju mushalla, saya tidak langsung bisa shalat karena ruang mushalla yang lumayan sempit sehingga harus bergantian dengan teman-teman yang lebih dulu mengerjakan shalat maghrib. Di depan pintu mushalla, saya tersenyum sendiri melihat teman-teman Festivalist berbaris bershaf mengerjakan ibadah shalat maghrib, dan apalagi setelah melihat si gondrong yang kemudian kuketahui adalah Mas Gondrong Mistis, bassist FSTVSLT begitu fasih dan khusyuk melantunkan ayat-ayat suci. Tiba-tiba saya merasakan kehangatan dari ruang lain keluarga ini. Betapa senangnya!

Dan akhirnya kutahu bahwa seperti inilah kami merawat dan menjaga keluarga sederhana ini.


Belia Pagi

No comments:

Post a Comment