#mencoretbucketlist

Menjelang buka puasa, sambil mendengar lagu The Milo dan Cherry Bombshell, saya masih duduk mematung menghadap monitor, menggoyang-goyangkan mouse, sesekali mengetik dan sangat sering beralih tab lain lalu memandang lalu lintas lini masa yang sore itu padat, disana berlalu lalang beragam kalimat dari rasa yang tak kunjung dewasa hingga bahasa yang jadi ekspresi kuasa bahkan doa dan fatwa. Lalu datang seorang kawan dengan dan memberi kabar “Eh, main Risky, Melbi sama Belkastrelka tanggal 8 di Teater Garasi” saya mengecilkan volume musik lalu menjawab “wahh, berkah ramadhan”.

………
Sekitar dua atau tiga tahun lalu, saya dan beberapa kawan menonton kolaborasi apik Jack Nicholson dan Morgan Freeman dalam film bertajuk The Bucket List. Cerita yang dibuat oleh Justin Zackham ini mengisahkan dua lelaki sepuh yang sedang sakit dan merasa hidup mereka tak akan lama lagi. Mengetahui kondisinya yang tinggal menghitung waktu keduanya kemudian membuat catatan berisi hal-hal yang ingin mereka lakukan atau tempat yang ingin mereka kunjungi sebelum beranjak ke kehidupan selanjutnya. Catatan itulah bucket list mereka, catatan berisi harapan.
Singkat cerita, setelah menonton film itu kami se-kosan membuka sesi khusus untuk membicarakan bucket list masing-masing. Tentang buku yang harus dibaca, tentang tempat yang hendak dikunjungi, tentang makanan yang wajib dicicipi, atau tentang orang-orang yang mesti ditemui serta setumpuk angan-angan lainnya yang seiring berlalunya waktu kian dan terus menumpuk. Sangat menyenangkan membicarakannya, yah, kami bahagia sejak saat memikirkan harapan-harapan tersebut dan selalu penasaran bagaimana rasanya nanti saat baris demi baris dalam catatan tersebut kami coret. Cerita kali ini adalah cerita tentang tercoret dan bertambahnya satu poin dalam bucket list. Dua adegan dengan sensasi yang berbeda, dan kami bersyukur untuk keduanya.
.............

Menjelang pukul delapan malam, hari rabu pekan lalu, saya dan dua orang kawan berangkat dari kosan menuju Teater Garasi. Meski sempat sedikit tersesat tetapi kami akhirnya bisa menemukan lokasi launching Pintu Kecil Lab di daerah bugisan selatan. Kami memasuki Teater Garasi yang mulai ramai, melihat panggung rendahnya dengan tata cahaya yang menarik sambil berbisik dan menyumpahi diri sendiri yang meski telah hampir dua tahun berada di Jogja baru sempat berkunjung kesana, ke salah satu ruang kreatif di kota yang memang istimewa ini. tak terlalu lama setelah itu, Acaranya-pun dibuka oleh MC, meski duduk di barisan belakang, posisi ini cukup strategis untuk melihat setiap sudut teater garasi.
Sebuah penjelasan ringkas mengenai Pintu Kecil Lab kemudian dilanjutkan dengan penampilan Belkastrelka. Ini adalah kali kedua saya menonton band ini dan dari kedua penampilan tersebut mereka hanya membawakan dua lagu, rasanya sangat menggantung dan sungguh “we wan’t more !!”. Dua lagu Belkstrelka kemudian diteruskan oleh Risky Summerbee & The Honeythief (RSTH). Malam itu RSTH tampil dengan tambahan seorang gitaris yang sangat atraktif dan terdengar lebih “berisik” dari panggung-panggung sebelumnya yang pernah kukunjungi. Berisik tapi harmonis, begitu kira-kira saya menggambarkan musik RSTH malam itu. Seperti mendengar begitu banyak bebunyian dari banyak arah tapi tak saling menabrak, saling mengejar tetapi tak pernah ketemu dan terus terulang hingga lagu berakhir. Tepukan meriahpun terdengar, pertanda kedua band atau seniman kolektif tersebut harus beralih ke penampil berikutnya, Melancholic Bitch.
……..

Melbi dan lagu-lagunya kukenal dan sering parkir di playlist sebelum beranjak ke Jogja. Lirik-liriknya unik, seperti mencoba menstimulus kita untuk menebak apa yang sebenarnya coba mereka sampaikan. Seperti lirik lagu yang paling cepat akrab dengan telingaku adalah “tentang cinta” dari album Anamnesis. “jika saja ada jendela dan jika saja ada segelas soda”, mendengar lirik ini saya kemudian menebak bahwa mereka sedang memparafrase kalimat “saya mual dan saya ingin muntah”. Kukira benar saat seorang kolumnis di Jakartabeat.net menulis lirik Melbi ini masuk dalam kategori “menjebak”. Setelah mulai beraktifitas di kota ini, menyaksikan Melbi secara live tertulis rapi di bucket list kami. Lebih khusus lagi, saya berharap bisa menikmati alunan tentang cinta secara live.
Catatan di Bucket list itu sebenarnya nyaris tercoret setahun lalu saat Melbi, Frau dan Armada Racun manggung di LAF Garden. Sayang panggung tersebut urung kami hadiri karena kehabisan tiket. Padahal kami berada di depan lokasi malam itu dalam kondisi sedang bersiap mengikuti seminar proposal esok paginya tapi mengetahui tiketnya habis kami pulang dan berakhir di salah satu warung burjo sekitar UGM. Maka adegan mencoret Bucket List itupun harus tertunda.

…….

Teater Garasi tampak makin padat dan ceria, tak terlalu lama setelah RSTH selesai membawakan (kalau tidak salah ingat) “Place I Wanna Go” Melbi naik panggung dan mulai memainkan karya-karyanya. Banyak yang tampak larut konser yang “intim” itu, dan mungkin saya salah satunya. Lalu diakhir sebuah lagu, Ugo bertutur “ini lagu Melbi yang paling sulit, tentang cinta”, kalimat tersebut sebelumnya pernah kudengar saat melihat Melbi manggung di Salihara via youtube dan itu memang pertanda tentang cinta akan dilantunkan. Saya tersenyum, ikut bernyanyi, bernyanyi dengan sura sedikit lebih kuat pada bagian “tentang cinta yang tak juga habis-habis, takkan juga habis-habis”, dan tercoret sudah satu catatan dalam bucket list malam itu, hmm… berkah ramadhan.
Setelah event tersebut usai, saat ingin berjalan keluar kami bertemu Mas Farid yang juga hadir malam itu. Kami sedikit mengobrol, dan dalam obrolan itu seketika terfikir untuk mendengar Melbi dan FSTVLST sepanggung membawakan Mati Muda dengan aksi panggung a la Ian Curtis, agak rumit memang tapi tetap kusampaikan pada Mas Farid malam itu dan dia menjawab “ada saatnya nanti.” Dan catatan dalam Bucket List-pun kembali bertambah.
…….

Kami bertiga-pun beranjak dari Bugisan Selatan dengan sepeda motor menembus dinginnya Jogja. Kami bergerak menuju warung Bakmi Jawa di depan Mirota Kampus dekat UGM untuk makan tengah malam bersama kawan-kawan yang lain. Malam itu kami ditraktir oleh seorang kawan yang sedang berbahagia karena di hari ulang tahunnya mendapat kado lulus beasiswa dan konser keren di Teater Garasi. Peserta traktiran seragam memesan capcay dan teh hangat, malam yang menyenangkan, berkah ramadhan…  

Sawing

No comments:

Post a Comment