Sajakkan Saja


Seperti kebiasaanku sebelumnya, karena rasa malas yang selalu mendera akhirnya sepotong kisah ini tak urung nongkrong di blog ini meski hampir sebulan lebih ia terus bersemayam di kepala dan ingatanku. Ini masih tentang sepenggal kisah di keluarga kecil ini. Kisah ini juga masih tentang keakraban, kebersamaan, dan keuletan untuk terus mau belajar dan mewujudkan makna kesetaraan dengan cara yang sederhana yang terus direnda di keluarga kecil ini.
………….

Ide ini sebenarnya sudah lama terpikir dan selalu kuniatkan untuk membagikannya ke teman-teman di FSTVLST untuk sama-sama diwujudkan. Namun setiap kali bertemu, saya pasti lupa untuk menyampaikannya. Ide ini kembali teringat sesaat setelah diskusi panjang lebar bersama Gulita Benderang dan Muda Rebah pada suatu sore yang sendu sambil lesehan di salah satu angkringan selatan Jogja. Saat ide lama ini kembali kuingat, segera kuketik pesan singkat untuk Gulita Benderang dan menyampaikan ide itu. Dan tak lama pesan singkatku berbalas, dan kami merencanakan untuk bertemu lagi keesokan harinya untuk membicarakan ide itu.

Awalnya ide ini tak bernama bahkan hingga detik-detik terakhir sebelum ide ini kami eksekusi menjadi hajatan yang sederhana namun penuh keakraban. Ide ini sebenanrnya sederhana saja. ia masih berhubungan dengan aktivitas berkesenian dan olah rasa. Entah setelah pulang dari gig FSTVLST yang mana dan pada akhir pekan kapan, tiba-tiba saja terlintas di kepala kalau sepertinya keren dan menarik kalau keluarga kecil ini kapan-kapan membuat acara baca puisi bersama di malam hari. awalnya saya membayangkan bahwa hajatan ini bakalan keren kalau diadakan di depan Angkringan Pak Tegho, sambil membuat lingkaran dan semua yang hadir harus membawakan puisinya. Ya, sesederhana itu saja sebenarnya. Bagi saya, puisi tidak hanya urusan bait dan rima yang indah, namun lebih dari itu bahwa puisi dan berpuisi adalah urusan keinginan untuk terus mereproduksi ruang-ruang baru yang dapat terus mengolah rasa dan empati, kebersamaan serta rasa peduli terhadap diri dan lingkungan terdekat. Yup, segamblang itu! Namun ia tetap tak bernama hingga detik-detik terakhir bahkan setelah kami berusaha keras untuk menamai ide ini.

Keesokan sorenya setelah pesan singkatku berbalas, kami bertiga kembali bertemu dan mendiskusikan mengenai ide ini lebih jauh. Dan setelah berdiskusi tak begitu lama, kami menyepakati untuk mewujudkan ide ini keesokan malamnya. Kami juga bersepakat mengadakan acara ini di halaman depan tempat hunian Gulita Benderang di Selatan Jogja dan yang paling penting bahwa semua yang hadir dan terundang wajib naik ke atas stage yang hanya akan disinari oleh temaram lilin-lilin untuk membawakan atau membacakan puisinya.

Pukul 20.00 waktu Bantaran Sungai Code, saya bersama Sang Muda Rebah serta satu teman lainnya meluncur menuju Selatan Jogja setelah sebentar singgah di salah satu warnet untuk mencetak beberapa puisi yang pernah kubuat sekitar tahun 2006 yang juga menjadi koleksi puisiku satu-satunya. Tak berapa lama kami sudah sampai di depan halaman tempat Gulita Benderang menetap beberapa bulan terakhir. Kami seperti biasa disambut dengan keramahan Milo, anjing manis milik Angga penghuni rumah itu juga. Seperti ekspektasiku, ruang yang tak begitu luas di depan kamar Gulita Benderang diubah sedemikian rupa hingga menjadi begitu indah dan syahdu untuk hajatan pusi malam itu. Dua meja yang sehari-harinya berada di depan kamar itu sementara disingkirkan dan digantikan dengan karpet dan beberapa kursi yang lalu digunakan sebagai tempat duduk oleh para terundang. Tepat di depan pintu kamar terdapat box yang kalau tak salah adalah tempat menyimpan perkakas vespa dijadikan sebagai stage dan dibelakangnya terdapat lukisan besar karya Gulita Benderang yang berfungsi sebagai latar. Pokoknya sesaat melihat tempat itu, saya langsung jatuh cinta….hahaha……..

Hajatan berpuisi malam itu baru dimulai sekitar jam 10 malam saat sekitar 20 an teman telah hadir di tempat itu dan siap (atau mau tidak mau harus siap) berpuisi di tempat itu. Beberapa menit sebelum akhirnya hajatan itu dimulai, akhirnya nama untuk acara yang niatannya akan terus diadakan itu ditemukan. Entah dari mana, tiba-tiba terlintas kata “Sajak” dan kemudian disempurnakan oleh Gulita Benderang menjadi “Sajakkan Saja.” Maka jadilah acara malam itu bernama Sajakkan Saja.

Sajak sepertinya menjadi kata yang tepat untuk helatan malam itu karena alih-alih “berpuisi,” hampir semua yang hadir malam itu memenuhi takdirnya duduk diatas stage sambil mensajakkan cerita, kisah dan penggalan hidup mereka satu-per satu. Disana ada “sajak” tentang harapan yang belum ter eja, tentang rasa syukur terhadap hari yang selalu menghadirkan kejutan-kejutan, tentang ucapan terima kasih kepada mereka yang selalu menyuguhkan cinta meski sering kali teracuhkan dan akhirnya tersadar ketika waktu serasa berhenti ketika satu per satu mereka telah pergi, tentang semangat untuk menjumpai hari esok, tentang amarah dan sesal, dan tentu tentang kelucuan-kelucuan yang bahkan belum pernah terucap. Setiap kawan pun membawakan sajak-sajak nya masing-masing dengan style dan caranya sendiri-sendiri. Karena sajak-sajak itu semua, kami tertawa, diam, marah dalam hati, dan tak jarang mengusap mata untuk setiap tetes yang tumpah. Ah, nikmatnya keakraban ini.

Apa yang terjadi malam itu benar-benar diluar dari apa yang kami bayangkan saat pertama kali memutuskan untuk menghelat acara ini. Terlalu banyak kejutan yang semakin meyakinkanku bahwa keluarga ini akan terus menemukan caranya sendiri untuk belajar dan terus meng-eja kebahagiaan dan kesetaraan tentunya dengan cara-cara yang sederhana.
Helatan Sajakkan Saja #1 ini diakhiri sekitar pukul 02.00 dini hari. Setelah saling bersalaman, khususnya kepada dua sahabat yang keesokan harinya akan meninggalkan Kota Jogja karena studi yang telah usai dan akan kembali ke kampung halaman dengan membawa pelajaran-pelajaran penting dari keluarga kecil ini, kami semua beranjak pulang ke tempat masing-masing sambil membawa sunggingan senyum atas kebahagiaan dan keakraban malam itu.

Jangan diam, Sajakkan saja!

Belia Pagi
Di tengah lebat hujan Kota Daeng…

No comments:

Post a Comment