cerita dari FESTIVALIST #02


Bhineka Tunggal Ika. Mungkin kita mengenal kalimat ini ketika masih duduk pada bangku kayu sekolah dasar,atau malah baru tau sebab membaca tulisan ini, tentang keberagaman, perbedaan yang sebenarnya tetap satu. Satu bangsa,satu satu bendera dan satu sama lain yang semetinya bisa bersatu. Toh seiring merambatnya waktu,perbedaan ternyata menjadi pematik untuk saling singgung dan bunuh di negri ini. Kebencian sudah tertanam dari dini,pelajar gemar bermain batu,kayu,besi dan parang,beradu hakim satu satu sama lain. Trotoar dan aspal adalah arena dan saksi bungkam berpeluh darah pun dendam.

Dari sedikit chaos-chaos yang terungkap di atas, yang sebenarnya tidak dapat di hitung dengan jari,masih ada beberapa orang-orang dengan ide-ide, gagasan dan aksi nyata yang positif. Tersebutlah FESTIVALIST,sebuah nama yang merangkul, menjabat erat siapapun setiap kamu. Bukan fanbase pun groupies, melainkan lingkaran sebuah keluarga dari band yang cukup senja dari ranah Jogjakarta yang bernama FSTVLST.

Sabtu 8 Desember 2012 bertempat di STIM AMP YKPN baru saja di helat FESTIVALIST #02 dengan tajuk Bhineka Tunggal Ika. Gigs dan rilisan pertama rintisan bersama,sebuah album kompilasi terangkum 18 track dalam kepingan CD dari band-band penampil. Nama-nama baru dan pelaku lama Soloensis, Savior, Overjoy, The Chemo, Alterego, Trippingjunkie, Thsmslhd, Sheena, Balaclava, Jimbekids, Rootbottom, The Kage, Gunmors, Jalang, Banana For Silvy, Rizuvan Airsick, FSTVLST, dan The Wonosari. Lorong dari dasar yang paling dasar dari bangunan perkuliahan,adalah altar para penampil unjuk gigi. Cukup dengan mengeluarkan rupiah 40.000 (CD KOMPILASI + BANDANA + STICKERPACK+TIKET MASUK FESTIVALIST #02) atau 15.000 (Bandana+Stickerpack).

Panggung sederhana tidak ada batasan interaksi antara band dan penikmat, menyuguhkan tarian mosing-mosing liar. Hujan di luar dengan suhu dingin di dalam ruang membuat detik-detik lesu, seperti derap semut yang tidak bisa di hardik pergi. Di bukanya gerai panggung oleh Rizuvan Airsick, Balaclava, The Kage, Jalang pelan perlahan mampu memanaskan setiap seisi ruang, dengan aroma Led zepp dan Garage Bandung yang begitu tercium di lubang hidung. Sheena memboikot panggung,melantun Morrisey, Kings Of Leon dan Dead Weather sejurus dengan kaki-kaki yang mulai merapat ke bibir panggung.

Selepas jeda maghrib Jimbekids menawarkan tetabuhan unik,di padukan alunan biola menciptakan harmonisasi yang indah. Lalu di susul aksi Rootbootom, Banana for Silvy, The Chemo band tamu dari semarang dan Overjoy seiring tiket masuk yang mulai menipis. Giliran Thsmslhd pegang kendali, dengan ciri khas lelaku kocaknya yang  tetap saja mampu membuat suasana semakin panas!. Belum sempat menetralisir mengatur detak jantung, Alter Ego mengambil alih kemudi, yang menjadikan panggung sebagai ajang reunian Illegal Motives, tak luput menggandeng Farid Stevy Asta dalam lagu What Ever You Say yang belum lama ini mereka rilis.

Tiket sold out! begitu seru panitia berpita merah bercakap kepada sebelahnya. Ruang semakin padat penduduk, Savior on stage dengan playlist dari lagu-lagu karya mereka sendiri. Dan FSTVLST yang banyak di tunggu menyapa lewat lagu Menangisi Akhir Pekan dan di susul dengan track-track andalan yang sudah sangat di hafal di luar kepala oleh para festivalist. Menciptakan karaoke masal sepanjang pertunjukan mereka. Soloensis band tetangga dari solo datang dengan rock blues dan sound kasarnya, sebelum di lanjut oleh band yang lama menghilang dari peredaran The Wonosari (kolaborasi Moki Airport Radio dan Farid Stevy Asta FSTVLST). Di ujung pementasan sebenarnya masih ada Tripping junkie di balik panggung, yang baru saja merilis single Asma. Namun kerena keterbatasan waktu dengan sangat menyesal panitia mereka tidak dapat tampil.

Gigs yang sederhana,namun memberi kesan dan pesan yang luar biasa. FESTIVALIST #02 berhasil menciptakan huru-hara bawah tanah Garage Rock Jogjakarta. Membuat kita untuk mengigat lagi tentang Bhineka Tunggal Ika, yang sudah luntur dan memudar seiring musim dan bergesernya  peradaban. Lewat musik mereka mampu berbicara, walau hanya sesuatu yang kecil, jika takarannya adalah untuk sebuah bangsa, tetapi bukankah perubahan di mulai dari sesuatu yang kecil, dari diri sendiri lalu merangkul banyak kepala?

Tetap saja saya menaruh hormat dan angkat topi untuk kerja keras mereka (FESTIVALIST)!

Salam setara!
Chandra Permana

1 comment:

  1. setara..cerita yang sangat indah nan megah..sukses buat festivalist..( = )Equal

    ReplyDelete