Curhat Sore Hari dan Tanah Tumpah Darah



Saat masih kuliah dulu, bersama teman-teman se kost kami punya semacam konsensus bahwa sesi curhat hanya akan kami hela setelah jam 11 malam dan lampu mesti dimatikan. Tak tahu sejak kapan dan siapa yang mengusulkan konsensus yang hingga kini sepertinya masih kami taati itu. Yang pasti, saat salah satu dari kami menunjukkan gelagat mau curhat, maka serentak siapa saja yang merasa menjadi bagian dari konsensus itu akan mencari jam dinding atau segera melirik ke jam tangannya memastikan apakah waktu curhat sudah tiba. Jika belum, maka bersabarlah hingga waktunya tiba. Oh iya, sepertinya konsensus ini hanya berlaku jika tema curhatan kawan berhubungan dengan belahan hati dan pernak perniknya, untuk tema lain seperti curhat soal negeri yang carut marut ini sepertinya bisa kapan saja...

.........................

Beberapa sore lalu, seorang kawan dari Jogja menyapaku via layanan chat facebook. Tak seperti biasanya, bahkan kalau tak salah ini kali pertama kami berkomunikasi memanfaatkan ruang ini. Biasanya kalau bukan lewat sms atau lewat inbox FB atau twitter. Rupanya ia hendak memohon maaf karena beberapa sms ku,termasuk ucapan selamat ultah yang ke 9 buat adiknya yang bernama sama dengan bassist Red Hot Chili Papper, yang beberapa hari sebelumnya tak dapat ia balas karena smart phone nya sedang bermasalah.

Setelah ucapan maaf, lalu kami saling memberi kabar mengenai tempat baru kami. Saya bercerita bahwa Kedai Buku Jenny beberapa hari kemarin menempati rumah baru yang kontrakannya baru kami bayar separuh di sebuah kompleks perumahan yang tak begitu jauh dari Unhas dan hanya “sepelemparan tombak” dari rumah si Mudah Rebah.  Kawan saya ini juga bercerita tentang sebuah tempat barunya di bilangan Bugisan, Jogja bersebelahan dengan Teater Garasi yang ia namai LIBCULT, serupa studio budaya.

Setelah puas bercerita tentang masing-masing tempat baru kami beserta mimpi-mimpi besar didalamnya, saya lalu meminta izin kepada si kawan untuk mendengar curhatku, curhat sore hari. Si kawan mengiyakan dengan antusias. Saya lalu bercerita tentang mimpi besar kami di Kedai Buku Jenny (KBJ). Kedai buku ini belum lagi genap berumur dua tahun namun dari waktu yang singkat itu kami belajar bahwa memang tak begitu mudah menyusun serpihan-serpihan semangat dan mimpi menjadi serupa “rumah” yang hangat dan sederhana dimana mimpi-mimpi benar-benar menjadi nyata. Semuanya tak semudah saat mimpi-mimpi besar ini kami susun dengan runut sesaat setelah bertemu “Jenny” di Jogja beberapa tahun kemarin. Berbagai persoalan mendera, mulai dari persoalan yang remeh-temeh hingga yang berurusan dengan hal-hal yang prinsipil. Tapi kami terus belajar, dan tak ragu untuk mengambil keputusan bahkan saat ia begitu sulit untuk dilakukan. Mimpi kami terlalu besar di kedai buku ini.

Si kawan terus menyimak dan sesekali menimpali. “Rumahnya harus teduh dulu supaya nanti pas jalan ga sibuk mindah2in ember buat nampung bocoran”, begitu katanya soal kepindahan kami ke rumah baru.

Hmm, saya setuju. Semuanya memang harus dipikir matang-matang. “Saya pengen banget nanti akhirnya sy sendiri bisa meneruskan KBJ di jogja” begitu lanjut si kawan terus menyemangati.

Sesi curhatku selesai. Loading semangat anyar telah usai. Dan tak kusangka si kawan juga memohon satu sesi lagi, masih curhat sore hari. Dan menurutku kali ini lebih serius.

Setelah memastikan bahwa saya siap menyimak, si kawan lalu memulai sesi ini dengan kegelisahannya soal hidup ini. “Entah mengapa, menginjak 30, ujung itu terasa semakin dekat.”

“Saya hampir tiap hari merasakannya,” begitu timpalku.

Melanjutkan curhatnya, si kawan mulai bercerita tentang keresahannya. Keresahan yang kupikir seharusnya dirasakan oleh siapa saja yang sadar benar bahwa semua awal pasti memiliki akhiran. Keresahan yang muncul dari pertanyaan yang sederhana namun tak begitu mudah untuk menemukan jawabannya. Apa yang akan anda lakukan di sisa hidup yang mungkin tak akan begitu lama lagi?

 Yup, akhirnya curhat ini mengenai seseorang yang selalu merasa cukup dengan apa yang sudah dan sedang diperbuat untuk menjadikan “akhiran” itu menjadi indah. Bagi si kawan yang selama ini berproses dengan FSTVLST, nama ben-benan nya, serta etos hidup yang dijalaninya memang sedikit banyak didedikasikan sebagai sumbangsih ke society. Namun pertanyaannya, apakah semua itu telah cukup khususnya bagi lingkungannya yang terdekat?

Dari keresahan-keresahan itu, lalu si kawan mulai melacak jejak hingga ia akhirnya berada di titik sekarang. Lalu muncullah sedikit petunjuk bahwa (dengan tidak sadar) ia sering alpa untuk sejenak memikirkan “tanah tumpah darah” tempat ia dilahirkan, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Menyimak curhat si kawan, saya dalam hati ikut mengiyakan. Tak pernah cukup intens memang saya rela mengorbankan waktu untuk mengajukan pertanyaan yang sama. Padahal saya tahu betul disana ada banyak persoalan yang bahkan berhubungan tentang “hidup mati” tanah kelahiranku itu.

Yang menarik dari keresahan si kawan ini karena ia sudah memiliki rencana untuk menjawab keresahan itu. Ia berencana untuk memulai sebuah sanggar, serupa mini cultural center yang memiliki tujuan sederhana yaitu mengembalikan Gunung Kidul ke hati generasi-generasinya.

Lebih jauh bahkan si kawan telah menyiapkan sebuah desain project untuk cita-citanya ini dengan tajuk PAST PRESENT FUTURE. Latar belakang project ini cukup sederhana namun sepertinya tak begitu banyak yang memperhatikan. Menurut si kawan, banyak orang Gunung Kidul “kehilangan” kebanggaan menjadi orang Gunung Kidul atau bahkan “belum pernah” punya kebanggaan itu, stereotipe “lemah” Gunung Kidul yang terus diamini, dan yang memprihatinkan bahwa kondisi “keterbelakangan” ini seringkali justru dianggap sebagai eksotisme oleh para imperialis. Demikian beberapa musabab yang menjadi latar belakang project ini. Selain itu, si kawan menegaskan bahwa selama ini tidak ada pergerakan yang mampu dan memang fokus untuk menggali potensi budaya, dan menggarisbawahinya dengan marker menyala supaya terlihat menarik.

Secara lebih terperinci si kawan menjelaskan kepadaku perihal project besar ini. Untuk PAST, berisi aktivitas penulisan sejarah budaya dan simpul-simpul besar kebudayaan dalam kurun kronologis, ditulis, menjadi arsip literatur. Supaya ia menjadi acuan, maka penulisan ini akan menggunakan bahasa sederhana sehingga orang-orang Gunung Kidul dapat lebih mengetahui kalau mereka juga punya sejarah. Kemudian apa yg ditemui disitu, menurut si kawan akan dipenetrasikan pelan-pelan pada generasi sekarang. Dan yang menarik bahwa gagasan-gagasan adiluhung ini akan di versuskan dengan popular culture dan apa-apa yg terjadi saat ini.

Untuk PRESENT, berisi project budaya dan seni. Mengapa seni dan budaya? Bagi si kawan, bukankah tanda sehatnya budaya  adalah dari keseniannya. Selanjutnya, rekaman atas seni yang merupakan manifestasi dari dua sub project ini, Past dan Present, harapannya akan menjadi serupa agitasi bagi bagi siapapun dan pada gilirannya mereka akan menciptakan percikan-percikan lain. Entah sedikit atau banyak, mereka yang menciptakan percik-percik ini, harapannya akan menjadi “sesuatu” bagi lingkungan sekitarnya. Perlahan, namun kontinyu sehingga dapat berkembang dan meluas. Dan harapan si kawan, semoga apa yang hendak dilakukan ini bisa memberikan nilai 'kebanggaan' menjadi orang Gunung Kidul yang entah kapan dulu, pernah ada, atau tidak.

Saat saya memohon izin untuk meng copy project ini untuk dijalankan di tempat lain, buru-buru si kawan “menolak.” “Wah, jangan ini harusnya dibangun bersama.” Jawab si kawan. Hmm, benar. Seharusnya ini adalah project bersama yang siapa pun dapat terlibat didalamnya tanpa harus dikerangkeng oleh batasan-batasan geografis yang semu. Ini bisa dimulai di Gunung Kidul dan bisa diperluas di “Gunung Kidul” lain yang begitu banyak di negeri ini.

.....................................

Saya dilahirkan di salah satu pulau di sebelah Tenggara Sulawesi. Meski saya tidak tumbuh besar di pulau ini karena kedua orang tuaku beraktivitas sebagai guru di Ibu Kota Provinsi dan saya hanya mengunjungi tanah kelahiranku di saat liburan saja, namun saya selalu bangga bercerita tentang keindahan pulau ini beserta keramahan dan kebersamaan orang-orang di pulau ini.

Namun,beberapa tahun terakhir kebanggaanku akan cerita-cerita indah ini lumayan terusik oleh aktivitas penumpukan laba oleh para penambang yang dengan buas menghajar setiap sisi pulau yang di dalam perutnya berisi kekayaan alam yang tak ternilai. Dalam sekejap, ceita-cerita indah masa kecilku lalu berubah serupa potongan-potongan kesuraman dan pesimisme dan sepertinya sebentar lagi mati. Degradasi alam terjadi dalam hitungan kerdipan mata, dan komunalisme lalu berganti individualisme dengan mata dan telinga yang tetap “terbuka”.

Lalu, beberapa dari yang muda dan masih berpikir waras mencoba berbuat sesuatu untuk menyelamatkan cerita-cerita indah itu sebelum ia tenggelam bersama berton-ton tanah berisi material bernilai yang dirampas secara legal dan dilayarkan menuju negeri entah. Hingga kini sudah banyak yang mereka lakukan namun karena kekuatan modal begitu menggurita dan punya kuasa bahkan atas otoritas yang disumpah untuk melayani para lemah, hingga semuanya tak begitu mudah untuk mencegah potensi kerusakan yang besar terjadi.

Saya sendiri hingga kini tak bisa berbuat banyak, sesekali memberi masukan kepada mereka yang muda dan mau berbuat, namun lebih sering hanya menyimak yang mereka kerjakan dari jauh. Kondisi begini bagiku sangat “memuakkan.” Saat seharusnya harus berbuat banyak namun tak begitu tahu harus berbuat apa. Dan bukankah diam hanya akan memperpanjang barisan perbudakan?

Itu mengapa curhat si kawan sore itu tentang cinta atas tanah tumpah darah begitu mengusikku hingga kini. Dan bagiku, seharusnya curhat itu mengusik kita semua. Ini bukan soal “nasionalisme sempit”, namun lebih jauh karena ini semua berkaitan dengan “KITA” dan ekspresi sosialitas yang seharusnya inheren dalam diri kita yang berani mengambil tanggungjawab menjadi manusia.

........................................

Setelah saling menyemangati dan sedikit komentar tentang tatto Fibonacci di tubuh si kawan,  sesi curhat sore itu kami akhiri dengan iringan doa semoga kami dapat segera bertemu dan bisa bertukar pikiran sambil menikmati secangkir teh jahe di Kota Imajinasi itu.

Akhirnya, mulailah meluangkan waktu untuk menyapa kampung halamanmu!

Belia Pagi
Kedai Buku Jenny, 31 Desember 2012

1 comment: