Memilih Utuh Dalam Karya

Di hampir pertengahan April kemarin, oleh salah satu media sosial saya diberi kabar kalau FSTVLST beberapa jam lagi akan merilis single berikutnya yang juga akan menjadi amunisi di album baru yang semoga tak lama lagi akan diperdengarkan ke khalayak. Sebelumnya mereka telah merilis Ayun Buai Zaman yang membuatku harus berada tak jauh dari laptop sambil streaming lagu itu yang diputar berkali-kali di salah satu radio QWERTY berbasis di kota Jogja sebelum akhirnya mendapatkan link unduh dari radio ini juga. Dan itu saya lakukan sambil mengayun si kecil. Jadi sambil mengayun sekaligus mendengarkan dengan seksama untaian Ayun Buai Zaman. Benar-benar perpaduan yang kompleks dan membahagiakan. Tepatnya sangat bahagia meski ada rindu terselip di setiap akhir nada.

Orang-Orang di Kerumunan, begitu mereka (baca: FSTVLST) menamai single yang mereka rilis dengan cara yang tak biasa, seperti biasanya, di hampir pertengahan bulan April kemarin. Jadi pada waktu yang ditentukan, single ini diputar secara serentak di beberapa radio di beberapa kota. Saya sendiri segera mempersiapkan segala sesuatunya agar tidak kelewatan momentum penting ini. Aplikasi radio QWERTY yang ber-tagline “Karena Galau Adalah Harapan” segera kuunduh dengan harapan disaat lagu itu dirilis dan diperdengangarkan atau direquest oleh para Festivalist, saya juga tak ketinggalan.

Mungkin anda percaya kalau segala yang anda benar-benar tunggu,maka biasanya akan ada hambatan kecil yang merintang. Kira-kira seperti itu yang saya rasakan malam itu. Saat media sosial member kabar kalau Orang-Orang di Kerumunan sudah bisa direquest, saya lalu beranjak ke radio online yang sebelumnya sudah kuunduh aplikasinya dan kemudian kuaktifkan. Tapi hingga beberapa jam radio itu selalu off-line. Upaya yang lain kucoba juga tak berhasil. Saya mulai panik karena merasa akan kehilangan momentum. Lalu segera kulayangkan pesan via akun kicauku ke akun kicau resmi FSTVLST meminta agar lagu itu dishare ke salah satu radio di Makassar. Meski diiyakan tapi hingga keesokan harinya lagi itu belum juga kudengar. Dan akhirnya Orang-Orang di Kerumunan bisa kudengar dengan puas sambil menghayati setiap inci lagu itu beberapa hari setelah pertama kali ia diperdengarkan di udara.

Sebelum kemana-mana, saya sebenarnya ingin bercerita sesuatu yang menghampiri saya saat sedang panik-paniknya karena setelah beberapa jam tak juga bisa menjadi “orang-orang pertama” yang mendengarkan “Nasehat Bijak” khas FSTVLST di lagu barunya. Jadi sesaat setelah berkicau di akun twitter Kedai Buku Jenny meminta lagu itu dibagikan ke radio-radio di Makassar agar kami juga bisa mendengarkan, tak berapa lama salah seorang dari Festivalist meminta link unduh Orang-Orang di Kerumunan. Hal serupa juga dilakukan beberapa Festivalist saat mereka belum kebagian link unduhan Ayun Buai Zaman.

Saya yang masih tengah berusaha agar bisa mendengarkan langsung dari radio, mendapatkan kicauan itu tentu agak reaksioner tapi akhirnya tertawa. Bagaimana bisa memberi lawong saya juga masih berusaha. Dan kalaupun saya punya saat itu, hampir pasti tak akan saya beri. Dan saya punya beberapa alasan untuk pilihan tak memberi itu. Pertama, bukannya kikir atau semacamnya tapi saya ingin saja teman-teman ini menikmati kepanikan yang berbalut kerinduan, seperti yang saya rasakan, karena yang ditunggu tak juga kunjung menyapa dan mengetuk pintu. Dan menjumpai sesuatu atau seseorang yang dirindukan dengan perjuangan yang lebih selalu mempunyai sensasi dan cita rasanya sendiri. Dan perjuangan untuk mencapai apa saja bukankah memang membutuhkan kesabaran ekstra? Dan akhirnya perpaduan antara kesabaran dan perjuangan adalah amunisi ampuh untuk mencapai kualitas hidup sebagai manusia. Manusia yang tak akan mudah berpaling hanya karena ayun buai zaman yang sering melenakan dan membuat kita menjadi bagian dari kerumunan mereka yang lupa. Hmm..

Sejak kembali ke Makassar dan mulai merapikan semua mimpi-mimpi di kedai buku yang kami kelola, saya mulai bertemu dengan anak-anak muda pekerja seni (ben-benan) di kota ini dan bercerita banyak hal. Mereka punya banyak mimpi yang belum diwujudkan. Mimpi untuk menghasilkan karya yang bagus, bagus tidak hanya untuk pencapaian pribadi tapi untuk kehidupan bersama, untuk kota yang kami naungi bersama. Berkali-kali kami bertemu dan berdiskusi hingga akhirnya kami di Kedai Buku Jenny sepakat bahwa mimpi mereka juga adalah mimpi kami dan sudah saatnya untuk saling membantu dan mengerjakannya bersama-sama. Karena untuk mencapai mimpi-mimpi itu ternyata memang tak begitu mudah.

Agak tak adil rasanya menuntut mereka membuat karya yang baik dan berkualitas dan lalu menuntut mereka juga untuk mendokumentasikan semua yang mereka lakukan sendirian. Menuntut mereka memproduksi karya-karya inspiratif tapi kita masih juga tak punya cara yang baik untuk mengapresiasi upaya serius yang mereka lakukan. Karena itu, kami coba mengapresiasi kerja keras mereka dengan cara kami. Menyediakan ruang distribusi komersial karya mereka meski kami sangat tau diluar sana link unduhan lagu-lagu mereka terbagi cuma-cuma,  membuka ruang diskusi tentang apa saja yang “beyond music” dengan harapan akan memberi sentuhan lain pada karya-karya teman-teman berikutnya meski ruang dikursus tentang tema-tema ini masih jarang di kota ini. dan hingga kini kami masih saja memutar otak untuk menemukan metode-metode baru untuk mengapresiasi dan mengagregasi karya-karya teman-teman kami itu. Singkatnya, apresiasi yang anda berikan sebaiknya dapat menjadi serupa amunisi baru bagi lahir dan berkualitasnya karya-karya berikutnya. Selemah-lemah iman yah belilah rilisan fisik karya-karya mereka yang anda tau menghasilkan karya dengan tak mudah dan punya mimpi besar di karya itu. Dan inilah alasan kedua dan terakhir saya.

Terakhir, ini memang soal pilihan. Pilihan untuk menjadi bagian penting dari keseluruhan karya atau anda memilih menjadi bagian dari mereka yang puas dengan hanya menikmati tanpa apresiasi. Silahkan memilih!

Oh iya, kemarin saya mendapatkan kejutan dari istri. Baru berencana mau order album boxet FSTVLST eh ternyata dia sudah ngorder duluan. What a surprise!

Makassar, 1 Mei 2014
Belia Pagi

1 comment: