Saya mencoba membedah mengais-ais ingatan saya yang berjejalan bertumpuk di saku rekam otak. Benar saja semua tidak raib begitu saja, saya merentas sebuah moment dipertengahan 2011. Saat itu dibilangan Gejayan event musik lokal bertajuk ‘'Block Party' sedang dihelat, satu nama baru muncul pada bangunan kotak pertunjukkan. Tampak kain putih membentang menutup muka panggung, dari dalamnya tampak empat sosok tubuh menjelma sebagai bayangan dari balik kain, sorot pijar lampu menyala terang mencoba mengeja dan melafalkan abjad-abjad yang tertulis pada bentangan kain putih itu, tersebutlah FSTVLST. Ya, semacam prosesi kelahiran jabang bayi atau reinkarnasi perwujudan dari anak gadis 8 tahun yang bernama Jenny.

Kini hampir 3 tahun rekam jejak mereka, nama itu semakin berkilau menyilaukan mata para pelajar, mahasiswa sampai kelas para pekerja. Mendoktrin lewat lubang kecil telinga dengan track-track ampuh yang memperdaya. Ditambah peminat-peminat baru yang ingin lebih dekat mengenal namun masih sungkan dan malu-malu. Mereka semua adalah FESTIVALIST, penikmat dan kerabat dari FSTVLST sendiri yang semakin tumbuh dan besar, dengan pupuk kesetaraan yang mereka tebar pada altar-altar panggung dan pertunjukkan.

Dalam kurun waktu sepak terjang mereka selama ini, FSTVLST memposisikan diri tidak hanya sebagai band, namun juga teman dan pengayom untuk teman-teman FESTIVALIST, memberdayakan mereka untuk tidak hanya menjadi penikmat tapi juga dapat beperan sebagai pelaku langsung dalam berbagai kegiatan. Terbukti beberapa gelar karya pertunjukkan musik seperti FESTIVALIST #1 hingga FESTIALIST #3 dengan berbagai tema dan maksud yang kesemuanya disengkuyung oleh teman-teman FESTIVALIST sendiri, mampu menjadi ajang pertemuan lintas generasi, lintas genre, bertukar pikiran dan mengenal teman-teman baru. Hal itu terlihat dari orang-orang yang datang dengan pembawaan diri yang berbeda-beda. Selain itu dapat juga dijadikan sebagai arena unjuk gigi, bagi band-band lokal baru dan pelaku lama yang tidak mendapatkan jatah tempat sebagai pengisi dan penghibur event PENSI di Jogjakarta.

FSTVLST sendiri dalam kurun waktu 2013 disibukkan oleh penggarapan album perdana mereka 'HITS KITSCH', keseriusan itu tampak dari rangkaian proses kreatif yang bertajuk FSTVLSTRCRDPRJCT (FSTVLST RECORD PROJECT), sebuah pertanggung jawaban mereka atas karya yang sangat dinantikan oleh para FESTIVALIST.Kini kabarnya proses itu akan sampai pada puncaknya, HITS KITSCH merangkum 10 track yang  beberapa diantaranya sudah sering sekali dilantunkan disetiap pementasan FSTVLST.

Yang menarik dalam album tersebut, FSTVLST menawarkan lirik dari semua lagu dengan bahasa Indonesia, tentu penggarapan  dan penulisan lirik yang tidak gampang untuk genre musik yang seperti FSTVLST usung sekian lama ini.

Pada 28 November 2013 lalu, FSTVLST merilis sebuah single yang terdapat dalam album HITS KITSCH yang berjudul Ayun Buai Zaman, disusul pada 12 April 2014 lalu FSTVLST kembali merilis single kedua dari album ini yang berjudul Orang-Orang Di Kerumunan, dengan antusiasme yang besar dari para khalayak terhadap dua track ini, membuatnya mampu bercokol diradio-radio dengan euforia yang masih terasa sampai saat ini. Sekaligus mampu menjadi penawar tidur atas jelaga dalam  penantian panjang para FESTIVALIST tentunya. Jika menyimak dari 2 track yang telah mereka umbar tentu memunculkan pertanyaan bahkan pernyataan, orang akan menjadikan Jenny sebagai sebuah perbandingan, sah-sah saja.

Perbedaan yang mencolok jika dikaitkan dengan materi yang terangkum pada debut album Jenny “MANIFESTO”, namun dipenglihatan saya yang tidak paham betul tentang musik, malah akan menjadi pertanggung jawaban yang gagal jika FSTVLST mengangkat lagi bebunyian-bebunyian lama seperti yang pernah ada pada masa emas Jenny dahulu, jika sementara FSTVLST tidak mampu untuk meraih atas apa yang pernah Jenny capai saat itu, lalu akan muncul perbandingan-perbandingan panjang dibelakangnya lagi. Dan hal yang positif menurut saya dengan racikan FSTVLST saat ini, lewat pencarian-pencarian indentitas sekian lama ini, mengais lagi yang pernah ada, atau hal-hal baru yang mereka temui mempengaruhi cara pandang bermusik, memperkaya dan mendewasakan karya-karya mereka. Gebukan Drum Danish yang tidak lagi terlalu disibukan oleh hi-hat ala New York Sound, serta suara raung Guitar Roby yang berani mengexplore habis-habisan bebunyian efek digitalnya, menunjukan FSTVLST berani keluar dari kotak-kotak tertentu. Dan gaya bernyanyi Farid dengan artikulasi yang sangat jelas mempertegas melafalkan lirik demi lirik, membungkus kata dan bahasa dengan baik jauh dari gaya bermalas-malasan ala Julian, tentu dengan maksud atas apa yang mereka sampaikan dapat masuk keindra dengar pendengarnya, dan dapat meninggalkan kesan dari setiap isi lagunya.

Namun masih terlalu pagi mengupas amunisi-amunisi baru FSTVLST, hanya dengan 2 lagu anyar yang belum lama ini mereka rilis, Tentu tidak cukup dijadikan sebagai cerminan dan bahan baku menilisik lebih jauh sebuah album.

HITS KITSCH memberikan kita ruang tunggu untuk duduk bersantai mencicip teh, lalu membenamkan mata kita pada media-media sosial yang ramai berjejalan meletakkan namanya. Ya, sebelum rilis album nanti proses pre-order telah dibuka oleh FSTVLST lewat media-media sosial mereka. Menawarkan paket terbatas berupa BOXSET yang didalamnya terdapat TOTEBAG, HARDCOVER BOX, ARTWORKS BOOKLET, CD, CASSETE, STICKER SET, NOTEBOOK, TEES, SMALL TOWEL dengan harga Rp. 250.000. Strategi yang jitu untuk sebuah band mandiri, mereka orang-orang yang menghidupi sebuah band, bukan orang-orang yang hidup/numpang didalam sebuah band. Orang-orang pelaku kreatif yang patut kita apresiasi atas karya-karyanya.

Yogyakarta, 16 mei 2014

foto dari tumbr: trulicious

No comments:

Post a Comment