Cinta Untuk Jenny

Semalam, saat sedang berusaha menikmati hiruk pikuk hajatan politik bangsa ini di sebuah stasiun tivi, kawan yang selalu menemaniku menikmati semua suguhan akhir pekan di Jogja dua tahun lalu mengirimiku sebuah link lagu Jenny dari akun soundcloud FSTVLST melalui akun twitternya. Segera kubuka link yang ia kirimkan. Disana tertera lagu yang berjudul Jenny Menarilah. Saya agak terperanjat dan sedikit kaget karena tak pernah tahu kalau FSTVLST pernah mengunggah lagu ini. Kuingat-ingat lagi apa judul ini ada di materi album HITSKITCH dan juga tak kudapati lagu ini. Tak lama lagu ini mengalun di ruang dengarku dengan terbata-bata karena kuota internetku yang memang sudah sekarat dan diperparah dengan power ponselku yang mulai melemah lalu kemudian mati dan minta diberi energi baru. Jenny Menarilah yang ternyata adalah versi akustik dari Dance Song akhirnya terinterupsi padahal baru saja akan kurangkai rindu untuk Jenny. Tapi kerinduanku segera menemui awalannya saat si kawan yang juga adalah tetanggaku datang dengan kuota internet yang lebih cepat dan akhirnya kerinduan terhadap Jenny yang begitu terasa pada Dance Song versi akustik ini kembali kami rangkai sambil membiarkan atap rumah yang kami tatapi berubah menjadi kelebatan cerita masa lalu saat pertama kali mengenal Jenny. Sesi ini kami sudahi karena sadar ternyata malam sudah menua.

Pagi tadi, di tengah rasa yang tak mengenakkan di perut dan memaksaku harus bolak balik toilet, kubuka buku yang berisi tulisan-tulisanku dan ibu dari kedua anakku yang kami dedikasikan untuk anak pertamaku. Buku itu bertajuk Maha Tanpa Huruf Kapital. Kubuka lembar demi lembar dan kubaca setiap tulisan yang kami tulis beberapa tahun lalu. Lalu rasa rindu kembali menyelinap pelan saat kubaca tulisan istriku tentang Jenny. Tulisan yang ia buat tak begitu lama setelah panggung Jenny yang kudatangi pertama kali. Dan setelah membacanya kembali, kemudian kuberpikir untuk merepost nya kembali di blog ini. Hanya untuk sekedar berbagi cerita dan energi. Silahkan membaca....

Seperti biasa, aku selalu tahu saat komrad menyukai sesuatu. Dalam tiap perbincangan kami , dia pasti tidak akan lupa menyelipkan segala hal tentang yang ia sukai itu. Aku lupa tepatnya kapan, seingatku setelah ia menyaksikan konser musik yang diadakan oleh sebuah kampus di Jogja sana. Komrad menikmati sisa harinya di sana untuk menikmati segenap”keramahan” Jogja. Aku dan komrad punya selera musik yang hampir sama. Terlepas bahwa semua lagu, musik, adalah sebuah karya yang patut diacungi jmpol, kami tidak berhenti menertawai industri musik yang juga tidak brhenti menelurkan generasi cengeng yang mendayu-dayu. Tapi jujur, kami juga sering menikmati lagu-lagunya. Karena terlalu sering didengar, kami juga tahu banyak liriknya. Tapi, itu tidak menghentikan cercaan dan rasa miris akan generasi musik yang dihadapi “maha” bertahun-tahun ke depan.


Oh yach, malam itu komrad mengenalkanku dengan Jenny. Komrad, tidak berhenti mengutarakan kekagumannya malam itu. Dan aku tahu, dia sedang jatuh cinta. Awalnya, aku tidak terlalu bersemangat, aku tahu komrad selalu punya harapan besar lewat karya musik yang bisa dijadikan instrumen membangun karakter bangsa. Cerita komrad yang sesekali terputus karena ia mendendangkan musik jenny sekaligus, membuatku mulai penasaran. Toh kita tahu beberapa band alternative yang lagu-lagunya diperdengarkan pada maha sejak dini, itung-itung sebagai counter atas gempuran musik-musik anak muda kebanyakan.


Di hari-hari berikutnya, komrad tidak berhenti membicarakan Jenny. Di ujung telpon aku bisa tahu bagaimana ekspresinya. Sampai pada satu hari, aku betul-betul tertarik saat komrad menegenalkan lagu “Maha Oke”. Karena koneksi internet yang tidak terlalu mudah untuk kuakse mengingat kesibukan sebagai ibu, sampai hari ini aku belum mendengar lagunya. Namun, komrad telah membacakan liriknya. Dan kalian tahu, aku terkesima. Bukan hanya karena ada kata “maha” di sana, yang selama ini menjadi panggilan si kecil kami, tapi liriknya secara keseluruhan mengagumkan, berbicara tentang ketauhidan, dan kepercayaan, pada Sang Maha Oke, satu-satunya Maha Ok dianatara semua yang Ok. Dia mengemasnya sangat anak muda.


Setelah itu, “Maha Oke” tidak berhenti dibicarakan. Apalagi setelah maha kami mendengarnya lewat telpon melalui suara bapaknya. Ia tertawa terkekeh, sambil mengualnginya. Katanya “ mammma oce…mamma oce…. Jika bapak komradnya menelpon dia pun selalu bertanya” bapak oce? Ibu oce? Mammmma (caranya menyebut maha)oce?” lalu tertawa. Seringkali saat beraksi di rumah, mengambil jimbenya dan berteriak “mammma oce…mamma oce…, sambil mlompt-lompat dan bersemangat.” Si kecil kami, tahunya lagu ini, adalah lagunya. Lagu untuknya.


Beberapa waktu lalu, pembicaraan tentang jenny semakin gencar, apalagi saat “Hari Terakhir Peradaban” akan diluncurkan. Komrad bilang “ seperti menunggu sebuah kelahiran”. Dan sesaat setelah komrad mengakhiri penantiannya, lirik hari terakhir peradaban ia bacakan. Aku terenyuh. Yah aku sadar “ aku salah satu diantaranya”


dan inilah harinya banyak wanita

menjadi budak atas kelaminnya
memeluk agama tanpa tuhan
yang ibadahnya adalah belanja

Toh seberapa kuat, aku memusuhi nafsu belanja, ia selalu tumbuh seperti jamur, merayu seperi iblis. Begitu pikirku saat komrad membacanya di ujung sana.


Tidak seperti biasa, aku bisa menggambarkan wajah, bentuk personil band saat telah mengetahui lagu-lagunya, kali ini tidak. Komrad hanya bilang kalau mereka tamatan ISI. Dan, beberapa malam lalu, saat komrad pulang dari malam “mudanya”, menikmati konser Jenny sambil jingkrak-jingkrak dan teriak. Wahhh…, dia memberi tahu beberapa hal yang unik. Aku semakin penasaran. Akhirnya, beberapa lagu Jenny singgah juga di komputer ini, komputer yang jarang dibuka, karena harus menunggu maha terlelap dulu, atau jika tidak, ia pasti hanya akan meminta diputarkan lagu Ipin-Upin, berkali-kali hingga bosan.


Pagi ini, entah karena apa, saat memyalakan komputer,maha tidak  merengek meminta diputarkan Ipin Upin, maka kudengarkan lagunya Jenny. Agenda yang tertunda sejak dua hari lalu. Musiknya yang menghentak, membuat maha mengambil gitar kecilnya, mengikuti ibunya, bergaya rocker, mengibaskan rambutnya, menggoyangkan badan dan kepalanya, menikmati lagu “ Menangisi Akhir Pekan”. Kami tertawa bersama. Aku yakin dia tidak tahu sama sekali ttg lagu ini, dia cuma mengulang kata “tujuh dan ujung”. Setelah habis. Dia bilang “ aji….aji…” lagi katanya.


Lagu ini kami ulang berkali-kali, betul. Aku juga dan semua para pekerja, harus menangisi akhir pekan. Biasanya, akhir pekan selalu menjadi tumbal atas semua penat yang terasa. Tapi, akhir pekan tidak pernah cukup. Akhir pekan selalu berjalan lebih cepat. Karena itulah aku menangisinya. Dan dintara beberapa lagu yang bisa diputar. Aku paling suka lagu itu. Soalnya “Maha Oke” belum kudengar langsung. Namun semua liriknya kuresapi kata demi kata. Keren!!! Hampir semua kusetujui, kecuali mati muda. Saat kuliah dulu, aku selalu ingin mati muda. Mati muda agar tidak bertemu dengan penyesalan. Tapi, semua itu berubah sejak ada “maha”. Aku ingin melihatnya bernyanyi, Menyanyikan lagu Jenny pastinya. Saya sepakat, “Nyala pasti akan padam, tapi sebelum ia benar-benar padam, jentikkan sedikit api di sumbu yang baru, agar ia tidak pernah betul-betul padam”.


Satu hal yang bisa kusimpulkan pagi ini, setelah ditemani beberapa lagu Jenny. Akhirnya aku tahu, kenapa komrad jatuh cinta pada Jenny. Karena aku juga mulai jatuh cinta. Semoga banyak cinta yang tumbuh pada band seperti Jenny, yang tidak memburamkan masa depan musik generasi muda mendatang. Generasi maha.


ibunya maha

2 comments:

  1. inspiratif ... lebih keren kalau ada lanjutan nya

    ReplyDelete
  2. mau nanya, buku Maha Tanpa Huruf Kapitalnya masih ada gak ya ?
    saya pengen beli buat kado ultah Hana Nuraini, mungkin mbak inngat dngan nama itu?
    mksh sblumnya

    ReplyDelete